JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memperingatkan kondisi Pantai Utara (Pantura) Jawa yang kian kritis. Pemerintah kini mendorong percepatan pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall untuk menghindari bencana besar pada 2050.
AHY mengungkapkan bahwa Pantura tengah menghadapi “tekanan ganda” (twin pressure). Fenomena ini melibatkan penurunan permukaan tanah mencapai 15-20 cm per tahun serta kenaikan air laut akibat pemanasan global sebesar 0,8-1,2 cm per tahun.
“Jika kita tidak lakukan intervensi, proyeksi penggenangan air laut hingga 2050 bisa lebih buruk dari sekarang,” tegas AHY dalam rapat koordinasi Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ), Senin (4/5/2026).
Potensi kenaikan air laut di beberapa titik bahkan sangat mengkhawatirkan. Wilayah pesisir Demak diprediksi mengalami kenaikan hingga 200 cm, sementara Tuban mencapai 150 cm. Wilayah lain seperti Tangerang, Bekasi, dan Pekalongan juga terancam kenaikan 50-100 cm.
Krisis ini tak hanya soal banjir rob, tetapi juga ancaman kelangkaan air bersih bagi warga pesisir. AHY menekankan perlunya langkah konkret karena Pantura menyumbang 27,53% atau sekitar US$368,37 miliar terhadap PDB nasional pada 2025.
Sejalan dengan pemerintah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan bahwa 65,8% garis pantai dari Serang hingga Situbondo telah mengalami erosi parah. Hal ini dipicu oleh tingginya tekanan demografi dan pembangunan yang masif.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin, menyebut kondisi ini mengakibatkan degradasi lingkungan yang serius. “Ini berujung pada ekstraksi sumber daya laut dan pesisir yang tidak terkontrol serta hilangnya ruang hidup warga,” ungkapnya.
Guna mencegah kerusakan lebih fatal, pemerintah memprioritaskan pembangunan Giant Sea Wall di area paling terdampak. Fokus utama saat ini diarahkan pada Teluk Jakarta dan Semarang yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan.