JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin (11/5/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp17.404 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 22 poin atau 0,13 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang didorong oleh meningkatnya ketidakpastian global. Salah satu pemicunya adalah kebuntuan pembicaraan antara AS dan Iran, yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan sentimen global masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah.

“Rupiah bergerak melemah seiring dengan menguatnya dolar dan harga minyak mentah dunia menyusul tanda-tanda bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu,” ujar Lukman, Senin (11/5).

Selain sentimen eksternal, pasar juga menantikan data domestik berupa survei kepercayaan konsumen yang diperkirakan mengalami penurunan.

“Dari domestik, investor menantikan data survei kepercayaan konsumen yang diperkirakan turun dari 122,9 menjadi 122,” kata Lukman.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang juga dibuka di zona merah. Yen Jepang melemah 0,16 persen, baht Thailand turun 0,39 persen, peso Filipina terkoreksi 0,68 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,10 persen.

Dolar Singapura dan dolar Hong Kong turut mengalami pelemahan masing-masing sebesar 0,08 persen dan 0,05 persen. Sementara yuan China menjadi salah satu mata uang yang masih menguat tipis sebesar 0,07 persen.

Tekanan serupa juga terjadi pada mata uang negara maju. Euro Eropa turun 0,20 persen, poundsterling Inggris melemah 0,26 persen, dan franc Swiss terkoreksi 0,23 persen. Dolar Australia dan dolar Kanada juga sama-sama bergerak di zona merah.

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS. Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan geopolitik global dan data ekonomi domestik sebagai penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya.