KEPULAUAN SANGIHE — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara (Sulut) melaporkan puluhan bangunan mengalami kerusakan parah akibat dampak gempa bumi bermagnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Filipina. Dampak kerusakan tersebut melanda wilayah kepulauan di utara Indonesia.
BPBD mencatat sebanyak 31 infrastruktur mengalami kerusakan fisik di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud. Fasilitas yang terdampak mencakup rumah tinggal warga, rumah ibadah, hingga fasilitas pendidikan.
“Jumlah total kerusakan infrastruktur di Sulawesi Utara, rumah warga 27 unit, gedung gereja 2 unit, sekolah 1 unit, rumah dinas guru 1 unit,” kata Kepala BPBD Sulut, Adolf Tumengkel, kepada detikcom, Senin (8/6/2026).
Adolf merinci, kerusakan paling parah terjadi di Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan total 20 unit rumah warga yang rusak. Selain hunian warga, satu unit rumah dinas guru dan dua gedung gereja di wilayah tersebut juga mengalami kerusakan.
Sementara itu, guncangan gempa juga merusak sejumlah pemukiman di Kabupaten Kepulauan Talaud. Setidaknya, tujuh rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan yang tersebar di wilayah Kecamatan Rainis.
“Di Kabupaten Talaud 7 unit rumah warga (rusak),” ujar Adolf menambahkan.
Gempa dangkal yang terjadi pada pukul 06.37 WIB ini sempat memicu kepanikan massal. Pemerintah bahkan mengaktifkan status Siaga hingga Waspada tsunami di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara.
Berdasarkan data pemutakhiran sensor alat pengukur pasang surut (tide gauge), tsunami kecil memang sempat terdeteksi mendarat di beberapa titik pantai. Ketinggian gelombang tertinggi tercatat mencapai 0,75 meter di kawasan Talengan, Kepulauan Sangihe.
Namun demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kini telah resmi mengakhiri peringatan dini ancaman gelombang pasang tersebut. Pasca-gempa utama, BMKG terus memantau aktivitas seismik di area bersangkutan.
Hingga saat ini, BMKG mendeteksi adanya 20 aktivitas gempa susulan (aftershocks) dengan kekuatan bervariasi antara M 3,9 hingga M 6,7. Sebagian dari gempa susulan tersebut dilaporkan masih dapat dirasakan oleh warga setempat.
“Peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa mag: 7.7 dinyatakan telah berakhir,” tegas Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, Senin (8/6/2026).
