JAKARTA — Harga minyak dunia terus mengalami tren penurunan yang signifikan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati perdamaian. Sentimen positif ini kian menguat seiring dengan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama pengiriman energi paling vital di dunia.

Terbukanya kembali jalur pelayaran strategis tersebut memberikan kepastian yang lebih tinggi terhadap stabilitas stok minyak global. Momentum perdamaian ini bermula saat Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya telah menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik antara blok AS-Israel dengan Iran.

Dampaknya langsung terasa pada perdagangan global hari Selasa (16/6/2026). Berdasarkan data perdagangan pada pukul 06.31 GMT, harga minyak mentah Brent merosot sebesar 45 sen, atau sekitar 0,5 persen, ke level USD 80,51 per barel, melanjutkan penurunan tajam hampir 5 persen pada hari Senin sebelumnya.

Meski kesepakatan damai telah tercapai, para analis memperkirakan pasokan minyak global tidak akan langsung melimpah dalam waktu dekat. Pemulihan arus logistik dan operasional kapal tanker pascapenutupan jalur laut yang cukup lama membutuhkan waktu yang bertahap.

“Dari sini, kemungkinan akan memakan waktu beberapa minggu untuk memulihkan arus kapal tanker. Kami memperkirakan 50% produksi akan kembali pada bulan September, dan 80% pada bulan Desember,” tulis analis Morgan Stanley dalam laporannya yang dikutip dari Reuters.

Hingga kini, pihak Gedung Putih belum mempublikasikan isi detail dari dokumen kesepakatan tersebut kepada publik. Kendati demikian, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sudah berbicara blak-blakan mengenai dampak positif dari diplomasi ini bagi peta konflik kedua negara.

Pezeshkian mengonfirmasi bahwa kesepakatan antara AS dan Iran tersebut memang bertujuan untuk mengakhiri konfrontasi militer di wilayah tersebut. Walaupun demikian, ia juga memberikan catatan bahwa kepastian akhir dari konflik ini masih harus terus dipantau perkembangannya ke depan.