Sidoarjo – Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengunjungi Puskesmas Krian, Sidoarjo, Jumat (12/6), sebagai bentuk keprihatinan terhadap tingginya angka penderita Tuberkulosis (TBC) dan HIV di Kabupaten Sidoarjo yang tercatat menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Timur maupun secara nasional.
Dalam kunjungan tersebut, BHS memperoleh berbagai informasi terkait jumlah penderita serta upaya penanganan yang telah dilakukan oleh tenaga kesehatan. Menurutnya, langkah pencegahan harus diperkuat agar angka kasus TBC maupun HIV dapat ditekan.
BHS mengapresiasi tenaga medis dan tenaga pendamping di Puskesmas Krian yang dinilai aktif turun langsung ke masyarakat untuk memberikan layanan pemeriksaan gratis serta melakukan pendampingan kepada pasien. Bahkan, petugas puskesmas secara proaktif mengingatkan pasien untuk rutin mengonsumsi obat sehingga penderita TBC maupun HIV dapat memperoleh pengobatan yang optimal.
Kapoksi Gerindra Komisi VII DPR-RI ini menyebutkan, jumlah kasus TBC di wilayah kerja Puskesmas Krian memang relatif lebih kecil dibandingkan sejumlah daerah lain seperti Surabaya, Gresik, dan Mojokerto. Namun demikian, BHS menilai potensi penyebaran penyakit tersebut tetap harus diwaspadai.
Sementara itu, untuk kasus HIV, Kecamatan Krian tercatat memiliki jumlah kasus tertinggi di wilayah tersebut. Menurutnya, kondisi ini kemungkinan dipengaruhi oleh masih kurangnya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara penularan serta pencegahan HIV maupun TBC.
“Ini harus betul-betul disosialisasikan kepada publik agar dapat diminimalkan dan tidak menularkan kepada masyarakat di wilayah sekitarnya,” ujar BHS.
Terkait TBC, BHS menilai faktor pencemaran udara turut berpengaruh terhadap tingginya angka kasus. Ia menyoroti keberadaan sekitar 900 industri besar di Sidoarjo serta tingginya aktivitas transportasi yang melintasi jalur tol.
Sebagai langkah pencegahan, BHS mendorong pengendalian pencemaran udara melalui pengawasan emisi industri oleh Kementerian Perindustrian agar gas buang yang dihasilkan tidak melebihi ambang batas yang telah ditetapkan.
Selain itu, BHS berencana menyampaikan kepada Jasa Marga agar segera membangun dinding peredam di sepanjang jalan tol yang berfungsi mengurangi pencemaran udara akibat emisi kendaraan sekaligus meredam kebisingan.
“Ini yang kita harapkan bisa membantu menurunkan jumlah masyarakat yang terinfeksi TBC,” katanya.
Untuk HIV, BHS menekankan pentingnya sosialisasi mengenai cara penularan dan pengobatan. Ia mengingatkan bahwa HIV dapat dikendalikan sehingga tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih parah apabila penderita menjalani pengobatan secara teratur.
Dalam kesempatan tersebut, BHS juga menyoroti keterbatasan anggaran pemeriksaan sampel dahak atau air liur untuk deteksi TBC. Menurutnya, pemeriksaan sampel perlu dilakukan secara maksimal guna mengetahui kondisi riil di masyarakat.
Karena itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dapat mengalokasikan anggaran yang memadai untuk mendukung pemeriksaan sampel sehingga penanganan kasus TBC dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Di akhir kunjungannya, BHS mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi paparan polusi, memastikan rumah mendapatkan sinar matahari yang cukup, serta menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi vitamin. Ia juga berharap vaksinasi BCG sebagai salah satu upaya pencegahan TBC dapat terus dilaksanakan oleh puskesmas kepada masyarakat di Kabupaten Sidoarjo.
