JAKARTA — Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menjawab kritik publik terkait minimnya keterlibatan pelaku usaha mikro dan kecil dalam pengelolaan dapur umum Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah menegaskan operasional dapur tersebut memang dirancang untuk skala usaha menengah karena membutuhkan modal yang sangat besar.
Maman meluruskan persepsi publik yang sering menyamakan istilah UMKM hanya dengan usaha berskala mikro dan kecil. Menurutnya, pengelolaan dapur umum membutuhkan kapasitas finansial berkisar antara Rp 1,5 miliar hingga Rp 3 miliar, angka yang sulit dijangkau oleh pelaku usaha kecil.
“Orang banyak protes, ‘Oh kenapa dapur umum begini-begini, hanya melibatkan usaha-usaha di atasnya, tidak mikro dan kecil gitu ya?’. Lho, emang dapur umum itu untuk usaha menengah. Yang selama ini kita sering sekali salah menafsirkan seakan-akan UMKM itu hanya usaha mikro dan kecil. Enggak,” tegas Maman dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR, Rabu (15/7/2026).
Ia menambahkan, pembatasan ini murni karena faktor kesiapan permodalan agar program nasional tersebut berjalan tanpa hambatan operasional. Jika dipaksakan dikelola oleh usaha mikro, dikhawatirkan kendala modal akan mengganggu kelancaran penyediaan makanan gratis.
“Karena dari skala permodalan dibutuhkan modal yang cukup besar, angkanya kurang lebih sekitar Rp 1,5-3 miliar. Kalau ini diserahkan kepada usaha mikro dan kecil, enggak mampu mereka secara permodalan,” sambungnya menerangkan situasi riil lapangan.
Meski demikian, Maman membantah tuduhan bahwa pelaku usaha mikro dan kecil sepenuhnya disisihkan dari program strategis ini. Pemerintah telah merancang ekosistem khusus agar usaha mikro dan kecil tetap berpartisipasi aktif sebagai pemasok rantai makanan.
Pelaku usaha mikro dan kecil difasilitasi untuk menjadi penyuplai bahan baku utama ke dapur-dapur MBG. Mulai dari memasok telur, ayam, sayur-mayur, hingga berbagai bumbu dapur yang dibutuhkan sehari-hari.
“Makanya dibukalah ekosistem, diberikan kesempatan kepada usaha mikro dan kecil untuk mereka bisa ikut berpartisipasi. Seperti apa? Supplier-supplier beberapa produk-produk,” pungkas Maman optimistis program ini akan menghidupkan seluruh level usaha.
