JAKARTA – Pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian global yang dipicu perlambatan ekonomi dunia dan gejolak harga energi. Keyakinan tersebut didukung oleh sejumlah indikator makroekonomi yang dinilai masih menunjukkan performa positif.
Staf Ahli Bidang Pengembangan Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Evita Manthovani, mengatakan lembaga keuangan global J.P. Morgan menempatkan Indonesia sebagai negara kedua paling tahan terhadap krisis energi global.
“J.P. Morgan menilai Indonesia sebagai negara yang paling tahan krisis energi kedua setelah Afrika Selatan, di atas Tiongkok dan Amerika,” ujar Evita dalam sambutannya di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Senin (11/5/2026).
Menurut Evita, ketahanan energi Indonesia ditopang oleh besarnya pasokan energi domestik. Batu bara menyumbang sekitar 48 persen konsumsi energi nasional, gas bumi 22 persen, dan energi terbarukan sekitar 7 persen.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara anggota G20, seperti China yang tumbuh 5 persen dan Korea Selatan 3,6 persen.
“Ini membuktikan fundamental ekonomi kita tetap kokoh dan pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi dari sebagian besar negara G20,” kata Evita.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan 5,52 persen. Di sisi lain, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp815 triliun atau 21,21 persen dari APBN, tumbuh 31,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Stabilitas ekonomi juga tercermin dari inflasi April 2026 yang berada di level 2,42 persen, masih dalam rentang sasaran pemerintah. Indeks keyakinan konsumen tetap optimistis di posisi 122,9.
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,32 miliar pada Maret 2026. Capaian tersebut memperpanjang tren surplus perdagangan Indonesia menjadi 71 bulan berturut-turut.
“Ini surplus kita sudah 71 bulan berturut-turut, capaian yang luar biasa dan patut kita syukuri,” ujar Evita.
Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan juga meningkat menjadi 9,49 persen secara tahunan pada Maret 2026, naik dari 9,37 persen pada Februari. Pemerintah menilai capaian tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik masih terjaga kuat.
