Denpasar – Banjir terjadi di Desa Pemogan Denpasar Selatan baru-baru ini pada saat pandemi Covid -19 berbuntut persoalan baru. Pasalnya, selain pembangunan waduk Muara Nusa Dua disinyalir kurang baik, pemasangan jaring penahan sampah pada hilir sungai Tukad Badung disebut-sebut juga jadi pemicu air meluap masuk ke pemukiman warga. Saringan ini dipasang ditengarai banyak pihak agar tidak mengotori air waduk yang dikelola  PDAM Badung.

Kelian Dinas Gelogor Carik I Ketut Budiarta yang akrab disapa Jarot mengatakan, saat pembangunan waduk Muara Nusa Dua dilakukan Balai Wilayah Sungai (BWS) di tahun 2017 mengaku sempat didatangi. Bahkan warganya sempat dijanjikan pekerjaan sebagai wilayah berdampingan dengan waduk dan PDAM Badung.

“Pernah dulu saya didatangi kurang lebih 3 orang dari BWS saat akan dibangun proyek waduk. Bilang akan bekerjasama dengan banjar terdekat dan juga dijanjikan akan menyerap tenaga kerja dari wilayah kami. Namun sampai detik ini tidak ada datang lagi sampai proyek waduk selesai dan malah menimbulkan banjir,” terang Jarot, Selasa (9/6).

Ketua Forum Kadus Pemogan ini mengatakan keberadaan pembangunan waduk agar dikaji ulang. Selain itu pihak dari PDAM Badung diminta agar bisa peka terhadap lingkungan sekitar perusahaan.

“Kalau tidak ada Covid -19 kami dari 17 Banjar mungkin sudah melakukan silaturahmi bertanya ke BWS dan PDAM Badung. Hal itu kami lakukan lantaran sudah merasa bosan adanya banjir. Kalau ini dibiarkan takutnya ke depan terjadi pergolakan di masyarakat. Pemerintah harus tanggap dengan keluh masyarakat ini,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan Jarot ketika banjir baru-baru ini melanda Desa Pemogan ada 5 banjar terendam air. Banjar Gelogor Carik, Banjar Sakah, Banjar Kajeng, Banjar Rangkan termasuk Banjar Teruna Bhineka dan Banjar Mekar. Dikatakan paling parah dari akibat banjir ini adalah Banjar Gelogor Carik. Banyak kendaraan terendam dan kerugian materi belum bisa diberikan keterangan.

“Sekarang sudah 10 harian bagaimana warga di tengah ekonomi sulit mengalami musibah seperti ini. Dan faktanya sampai detik hari ini pemerintah dan anggota dewan tidak ada yang turun,” singgung Jarot.

Sebelumnya Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumdam) Tirta Mangutama Kabupaten Badung, I Ketut Golak mengatakan selama ini memang belum ada kontribusi sosial perusahaan diberikan kepada masyarakat Denpasar Selatan. Terutama ada di sekitar lingkungan Waduk Muara Nusa Dua, berdirinya tempat usaha pengolahan air Perumda Tirta Mangutama Badung.

Menurutnya, kontribusi sosial perusahaan baru tersalurkan bagi warga masyarakat Kabupaten Badung. Namun, ia mengaku siap jika nantinya diminta turut memperhatikan masyarakat yang ada di Kota Denpasar terutama Desa Pemogan. Hal ini lantaran memang lokasi usaha perusahaan dipimpinnya ada di perbatasan.

“Sementara ini memang belum ada (kontribusi sosial terhadap masyarakat Pemogan, red) tapi pasti kita akan berpikir ke arah sana. Karena kita ada regulasi dan aturan harus kita perhatikan dan taati. Harus direncanakan yang matang,” ungkapnya.