Langsung ke konten
Rabu, 28 Oktober 2026
Peristiwa

Gempa M 6,2 Guncang Maluku Utara, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

Ilustrasi skala gempa (foto: iStock/Allanswart)

JAKARTA – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang wilayah Halmahera Utara, Maluku Utara, pada Jumat (3/7/2026) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09.31 WIB.

Berdasarkan data resmi BMKG, pusat gempa atau episenter terletak pada koordinat 1,93 LU dan 127,39 BT. Lokasi tersebut tepatnya berada di laut pada jarak 58 kilometer arah barat daya Pulau Doi, Maluku Utara, dengan kedalaman hiposenter mencapai 100 kilometer.

Masyarakat di wilayah Halmahera Utara merasakan guncangan cukup keras yang mencapai skala intensitas III-IV MMI. Getaran pada skala ini jamak dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah, menyebabkan jendela atau pintu berderik, dinding berbunyi, hingga benda-benda gerabah pecah.

“Berdasarkan laporan masyarakat gempa bumi ini dirasakan dengan skala intensitas III-IV MMI di Halmahera Utara,” demikian bunyi keterangan tertulis dari BMKG yang diterima pada Jumat pagi.

Selain di Halmahera Utara, rembetan getaran dengan skala III MMI juga meluas hingga ke wilayah Ternate, Tidore, Sanana, dan Morotai. Bahkan, wilayah lain seperti Kota Gorontalo, Gorontalo Utara, dan Bone Bolango turut merasakan guncangan dengan skala intensitas II-III MMI.

Kendati kekuatan gempa tergolong besar, BMKG memastikan bahwa pemodelan matematis menunjukkan hasil yang aman. Pihak berwenang menegaskan bahwa aktivitas tektonik ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami di sepanjang garis pantai terdampak.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa fenomena ini termasuk ke dalam kategori gempa bumi menengah. Posisi kedalaman batuan yang pecah menjadi indikator utama penentuan jenis gempa tersebut.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas deformasi batuan dalam lempeng Laut Maluku,” kata Wijayanto dalam keterangan tertulisnya.

Lebih lanjut, Wijayanto menambahkan bahwa struktur patahan di area pusat gempa bergerak secara dinamis. “Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust fault),” pungkasnya.