Langsung ke konten
Kamis, 29 Oktober 2026
Jawa Timur

Gempa M5,6 Guncang Pacitan, Getaran Terasa hingga Yogyakarta, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

Ilustrasi skala gempa (foto: iStock/Allanswart)

JAKARTA – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,6 mengguncang wilayah Tenggara Pacitan, Jawa Timur, pada Sabtu (27/6/2026) siang. Guncangan yang terjadi pada pukul 14.47 WIB tersebut terasa meluas hingga ke wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah.

​Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi memicu bencana tsunami. Warga diimbau untuk tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kerusakan bangunan.

​Berdasarkan analisis parameter pemutakhiran, kekuatan gempa tercatat berada pada Magnitudo 5,3. Pusat gempa terletak di laut pada jarak 96 kilometer arah Tenggara Pacitan dengan kedalaman 53 kilometer.

​”Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng,” ujar Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam siaran persnya.

​Wijayanto menambahkan bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan naik (thrust fault). Berdasarkan laporan masyarakat, intensitas guncangan gempa bervariasi di sejumlah wilayah.

​Skala intensitas III MMI dirasakan nyata di dalam rumah oleh warga Pacitan, Wonogiri, Tulungagung, dan Blitar. Warga merasakan getaran yang kuat seakan-akan ada truk besar yang sedang berlalu di dekat mereka.

​Sementara itu, wilayah Kulon Progo, Bantul, Sleman, Yogyakarta, Trenggalek, Malang, Nganjuk, Magetan, Klaten, Ponorogo, hingga Jember merasakan skala II MMI. Pada skala ini, benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan getaran dirasakan oleh beberapa orang.

​BMKG menegaskan bahwa mereka akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan secara ketat. Informasi terkini akan segera disampaikan secara berkala kepada pihak pemangku kepentingan dan masyarakat luas.

​Pihak BMKG juga meminta masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai isu yang tidak jelas sumbernya. Warga diharapkan hanya merujuk pada kanal informasi resmi milik BMKG.

​”Hindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi,” tutur Wijayanto mengingatkan warga di lokasi terdampak guncangan.