Langsung ke konten
Rabu, 28 Oktober 2026
Ekonomi & Bisnis

Gas Masela Diprioritaskan untuk Kebutuhan Domestik, Ekspor Maksimal 40 Persen

JAKARTA — Pemerintah mengambil langkah tegas untuk mengamankan pasokan energi nasional dari Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Laut Arafura, Maluku. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahdalia, mengumumkan bahwa pemerintah menetapkan alokasi minimal 60 persen dari total produksi gas tersebut untuk memenuhi kebutuhan domestik. Sementara itu, porsi untuk pasar ekspor dibatasi maksimal hanya 40 persen.

Kebijakan strategis ini dilaporkan langsung kepada Presiden menjelang pelaksanaan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek LNG Abadi Masela di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Alokasi domestik tersebut dipersiapkan untuk menggerakkan sejumlah sektor krusial, mulai dari industri pupuk, kelistrikan, hingga program hilirisasi nasional.

“Kita akan alokasikan produksi gas Blok Masela 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kita melakukan ekspor. Di mana sebagian kita akan memakai untuk hilirisasi daripada PT Pupuk yang berencana akan membangun industri hilirisasi di sini,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahdalia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (18/7/2026).

Selain untuk menyokong industri pupuk, pemerintah juga mengarahkan pasokan gas ini kepada PT PLN (Persero), PT PGN Tbk, serta sejumlah perusahaan swasta. Kementerian ESDM bersama SKK Migas memastikan alokasi tersebut telah masuk dalam rencana pengembangan lapangan atau Plan of Development (PoD). Langkah ini diambil untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi daerah setempat.

“Setelah pupuk, kemudian kita akan menyerahkan sebagian kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta yang sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah,” lanjut Bahlil menambahkan.

Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berada di bawah Kontrak Kerja Sama (PSC) hingga tahun 2055 ini ditargetkan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA) dan 150 juta kaki kubik standar gas pipa per hari (MMSCFD). Tidak hanya mengejar produksi, proyek laut dalam ini juga mengadopsi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) demi mendukung transisi energi dan menekan emisi karbon global.