ICOLO E BENGO — Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Windhoek merangkap Angola menggelar kegiatan sosialisasi budaya dan pendidikan di Paroki St. Anthony, Provinsi Icolo e Bengo, Angola. Langkah ini bertujuan memperkuat hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact) sekaligus memperkenalkan potensi Indonesia di Afrika.
Kegiatan yang memadukan promosi pendidikan, pertunjukan seni interaktif, hingga perlombaan khas Kemerdekaan RI ini dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan. Sosialisasi dipimpin langsung oleh Romo Karno Kelen, seorang pastor misionaris asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengabdi di paroki tersebut.
Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Windhoek, A. Yathriba, menyampaikan paparan komprehensif mengenai profil Indonesia. Ia mengenalkan posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, keragaman budaya, kekayaan kuliner, hingga destinasi wisata unggulan.
“Indonesia merupakan negara majemuk yang sangat terbuka terhadap kerja sama internasional di berbagai bidang, termasuk pendidikan dan kebudayaan,” ujar A. Yathriba saat memberikan paparan di hadapan warga Angola.
KBRI Windhoek juga mempromosikan akses pendidikan tinggi bagi pemuda Angola melalui Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dan Program Darmasiswa. Penawaran beasiswa ini menjadi strategi penting untuk memperluas jejaring akademik serta mempererat hubungan bilateral kedua negara.
Suasana semakin meriah saat peserta diajak memainkan alat musik tradisional angklung secara bersama-sama. Tak hanya itu, panitia turut menggelar lomba khas perayaan HUT ke-81 RI, seperti lomba memasukkan pensil ke dalam botol dan balap kelereng yang diikuti anak-anak hingga orang dewasa.
“Kehadiran tradisi dan kebudayaan Indonesia di tengah masyarakat Angola menjadi jembatan emosional yang mempererat persahabatan kedua bangsa secara berkelanjutan,” ungkap Romo Karno Kelen di sela-sela acara.
Kegiatan tersebut diakhiri dengan tarian bersama Tarian Ja’i dari Bajawa dan Tari Dolo-Dolo dari Flores Timur. Keberadaan para pemuka agama asal Indonesia di Angola terus menjadi pilar diplomasi penting dalam memperdekat hubungan sosial masyarakat kedua negara.
