Langsung ke konten
Selasa, 27 Oktober 2026
Nasional

Sambangi Korban Keracunan MBG di Semarang, Kepala BGN Pastikan Penanganan Para Siswa Maksimal

Sumber foto: Dok. Biro Hukum dan Humas BGN

SEMARANG — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyambangi langsung para korban dugaan keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah rumah sakit Kota Semarang, Sabtu (1/8/2026). Langkah ini diambil setelah Dinas Kesehatan setempat melaporkan sebanyak 707 orang, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru SMKN 6 Semarang, mengalami gejala mual, pusing, hingga diare.

Para korban diduga mengalami gejala tersebut usai mengonsumsi hidangan MBG pada Jumat (31/7/2026). Saat ini, sebanyak 13 korban mendapatkan perawatan intensif di RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, RS Pantiwilasa Citarum, serta puskesmas setempat.

“Jadi ini saya kunjungan ke Semarang merespons dari laporan adanya keracunan dari SMK Negeri 6 Semarang ya. Dari sekitar 700an itu yang dirawat 13. Alhamdulillah tadi sudah kita tengok kondisinya sudah baik,” ungkap Sudaryono.

Berdasarkan investigasi awal, BGN menduga insiden terjadi akibat beberapa sampel bahan makanan serta waktu pengolahan yang dilakukan terlalu dini sebelum distribusi. Pihak BGN masih menantikan hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Kota Semarang terkait sampel daun singkong hingga bumbu rendang.

“Sejauh ini investigasi kita adalah dari bahan-bahan itu dan diduga memasaknya jauh lebih awal,” ujar pria yang akrab disapa Mas Dar tersebut.

Sebagai tindakan tegas, BGN langsung menjatuhkan sanksi pemberhentian sementara (suspend) terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi yang bertindak sebagai penyedia makanan. Pihaknya juga menerbitkan surat peringatan keras kepada mitra yayasan hingga koordinator kecamatan (korcam).

“Jadi dapurnya di-suspend menunggu investigasi. Jadi kemudian SPPG-nya juga kita beri surat peringatan, termasuk Korcam dan ke atas ini kami beri peringatan,” tegas Sudaryono.

Guna mengantisipasi kejadian berulang, BGN kini mempercepat penerapan sistem pengawasan digital terintegrasi di setiap dapur penyedia. Sistem ini nantinya memunginkan orang tua, guru, dan dinas terkait memantau seluruh proses pengolahan makanan secara real-time.