Langsung ke konten
Selasa, 27 Oktober 2026
Nasional

Tragis! Sanca hingga Orangutan Jadi Korban Jiwa Karhutla, Puluhan Satwa Liar Dievakuasi

Orangutan Sampurna yang malang mengalami sesak napas saat ditemukan, nyawanya tidak tertolong. (Sumber foto: REUTERS/Willy Kurniawan/via detikcom)

JAKARTA- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya menghanguskan pepohonan dan memicu polusi, tetapi juga membawa ancaman mematikan bagi satwa liar. Berbagai jenis hewan, mulai dari sanca, trenggiling, hingga orangutan, mengalami luka bakar, kehilangan habitat, hingga kematian akibat terpapar asap pekat.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat mencatat ada 24 satwa liar yang berhasil diselamatkan dari amukan api. Penyelamatan ini dilakukan sepanjang periode 1 Agustus hingga 10 September 2026 bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

“Satwa yang diselamatkan terdiri atas 15 orangutan, enam trenggiling, satu bekantan, satu kukang, dan satu musang tenggalung,” demikian keterangan resmi Kemenhut yang merinci data evakuasi di lapangan.

Salah satu kisah pilu dialami oleh seekor orangutan muda bernama Novita di kawasan hutan Katune, Kalimantan Tengah. Novita ditemukan bertahan hidup di atas pohon tanpa daun dengan kondisi kedua tangan dan kaki mengalami luka bakar serius.

Nasib lebih tragis menimpa orangutan jantan bernama Sampurna di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Meski sempat diselamatkan pada 30 Agustus 2026, ia akhirnya mati akibat mengalami gangguan pernapasan parah setelah terpapar asap.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Raden Wisnu Nurcahyo, menjelaskan bahwa karhutla memaksa satwa kehilangan tempat tinggal dan sumber pakan. Kondisi ini membuat hewan terpaksa mendekati permukiman dan sangat rentan terhadap konflik dengan manusia.

“Perpindahan tersebut dapat membuat satwa lebih rentan terhadap kelaparan, dehidrasi, cedera, serta konflik dengan manusia,” ujar Prof. Wisnu menyoroti dampak lanjutan dari kebakaran hutan.

Sementara itu, pemeriksaan pascakematian Sampurna menunjukkan adanya perubahan patologis pada organ vital seperti paru-paru, jantung, dan ginjal. Paparan asap pekat diduga memicu hipoksia akut atau kondisi kekurangan oksigen yang memperparah kondisi kesehatannya.

Pihak BKSDA menegaskan bahwa angka penyelamatan tersebut hanya mencakup hewan yang berhasil dijangkau oleh petugas. Di area hutan yang luas, masih banyak satwa terluka atau mati di tempat terpencil yang luput dari pantauan.

Untuk mencegah risiko yang lebih buruk, BKSDA mengimbau masyarakat agar segera melapor kepada petugas jika menemukan satwa liar yang terluka. Warga diminta untuk tidak menangani satwa secara mandiri guna menghindari stres pada hewan maupun bahaya bagi keselamatan manusia.