SIDOARJO – Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) mendorong kebangkitan industri gula nasional dengan menjadikan Sidoarjo sebagai salah satu simbol kejayaan sektor pergulaan Indonesia di masa lalu. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk kembali menjadi negara penghasil gula terkemuka di dunia sekaligus mewujudkan swasembada gula nasional.

BHS mengungkapkan bahwa pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Kabupaten Sidoarjo dikenal sebagai salah satu pusat produksi gula terbesar di Jawa Timur. Saat itu, terdapat sedikitnya 15 pabrik gula yang beroperasi di wilayah tersebut dan menjadi bagian penting dalam rantai industri gula nasional.

“Indonesia pernah menjadi pengekspor gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba dengan rata-rata ekspor mencapai tiga juta ton per tahun. Ini menunjukkan bahwa bangsa kita memiliki sejarah panjang dan kapasitas besar dalam industri gula,” kata BHS.

Menurutnya, kejayaan tersebut harus menjadi motivasi bagi pemerintah untuk membangun kembali industri gula yang kuat dan berdaya saing. Indonesia dinilai memiliki keunggulan berupa lahan yang subur dan iklim yang mendukung budidaya tebu dibandingkan sejumlah negara produsen gula lainnya di kawasan Asia Tenggara.

BHS menilai ketergantungan terhadap impor gula yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir harus segera dikurangi. Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat sektor hulu dan hilir industri gula, mulai dari peningkatan produktivitas tebu, modernisasi pabrik gula, hingga peningkatan kesejahteraan petani.

Selain mengejar swasembada, BHS juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga gula di pasaran. Menurutnya, harga gula harus dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa mengurangi keuntungan yang layak bagi petani dan pelaku industri.

“Sudah saatnya Indonesia mengembalikan citra sebagai negara agraris yang mampu memenuhi kebutuhan gulanya sendiri. Dengan sumber daya yang kita miliki, saya optimistis Indonesia bisa kembali menjadi salah satu produsen gula terbesar di dunia,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah, pelaku industri, dan petani dapat bersinergi untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional, khususnya di sektor gula.