JAKARTA — Pemerintah memastikan bakal meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis baru, yakni biodiesel B50, mulai 1 Juli 2026 mendatang. Saat ini, otoritas terkait tengah mematangkan persiapan dengan menggelar evaluasi akhir terhadap seluruh hasil uji coba.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa dirinya akan memimpin langsung rapat koordinasi bersama tim uji coba dalam satu pekan ke depan. Langkah ini krusial guna memastikan kesiapan teknis sebelum implementasi resmi dilakukan secara nasional.

“B50 sesuai dengan jadwal akan diimplementasikan pada 1 Juli 2026. Mungkin satu minggu lagi saya akan melakukan rapat dengan tim uji coba. Sekarang kan kita masih terus melakukan uji coba,” kata Bahlil di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Bahlil mengungkapkan bahwa perkembangan riset di lapangan sejauh ini menunjukkan indikator yang sangat positif. Mayoritas parameter pengujian, atau sekitar 80 hingga 90 persen, telah memenuhi standar dan memberikan hasil yang memuaskan.

Menariknya, dari sisi kualitas fungsional, produk B50 terbukti memiliki keunggulan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendahulunya. Bahlil menyebutkan bahwa aspek kadar air pada varian baru ini jauh lebih bersih ketimbang biodiesel B40 yang saat ini beredar.

“Sekitar 80-90% hasil uji coba, alhamdulillah baik. Bahkan kadar airnya dibandingkan dengan B40 itu lebih baik di B50. Namun, hasil akhirnya akan kami sampaikan setelah rapat evaluasi final,” ujarnya menjelaskan.

Sebagai informasi, B50 merupakan bahan bakar alternatif yang mengombinasikan 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit mentah (CPO) dengan 50 persen minyak solar bumi. Formulasi ini meningkat dari kebijakan B40 yang saat ini masih berlaku di masyarakat.

Pemerintah optimistis bahwa penerapan B50 secara masif tidak hanya akan mendongkrak penyerapan kelapa sawit domestik. Kebijakan strategis ini juga diproyeksikan mampu menekan angka impor bahan bakar fosil secara signifikan demi ketahanan energi nasional.