Penenun Kain Tradisional Desa Lakulo Alami Kendala Pemasaran

  • Whatsapp

Malaka – produksi dari penenun kain tradisional di desa Lakulo kecamatan Weliman masih memiliki kendala untuk pemasaran, mengakibatkan pemasaran kain tenun tradisional hanya terbatas di kota Malaka dan sekitarnya.

Pengrajin kain tenun tradisional  secara turun temurun dari generasi ke generasi masih bisa dilihat di warga desa Lakulo, kecamatan Weliman Kabupaten Malaka NTT.

Dari pantauan deliknews salah satu warga, Maria Goreti Seuk yang lagi menenun kain di halaman rumahnya desa Lakulo, kecamatan Weliman.

Di sela sela menenun kain,  Maria Goreti Seuk menjelaskan, dalam pemrosesan kain tenun membutuhkan benang sekitar 30 kepala benang dengan berfariasi warna benang. Setelah itu benang digulung menadi benang bulatan,  kemudian dilakukan dengan namanya tiha. Dari benang yang sudah di gulung berupa bulatan maka bisa memulai menenun. Proses menenun  membutuhkan waktu berkisar 2 atau 3 minggu.

“Untuk pemasaran kain tenun ikat yang di sebut juga tenun Rua ini beta bawa ke pasar untuk di jual. Kain tenun ikat, dijual dengan harga yang sangat murah seharga Rp.350.000, karena kurang pemasarannya” ungkap Maria Goreti Suek.

Di tempat berbeda salah satu warga dusun Umalor desa Lakulo, Maria Yasinta Hoar mengatakan dengan berjualan kain Itu, beta langsung mambil langsung dari penenun dan saya jual lagi. Biasanya saya jual di pasar Tradisional dengan harga sekitar Rp.400.000 sampai dengan Rp.600.000 itupun berdasarkan Motifnya.

“Hasil penjualan kain tenun ikat itu sangat membantu sekali untuk menambah perekonomian rumah tangga. Walaupun satu atau Dua kain yang dapat terjual. Dari hasil penjualan itu bisa untuk menopang dan membiaya anak di bangku kuliah” ujar Maria Yasinta Hoar.

Harapan pada Pemerintah Daerah melalui Dinas Perindustrian dan Koperasi Kabupaten untuk membangun showroom atau toko penampung kain tenun ikat untuk dipasarkan ke masyarakat. Sampai harga kain pun ditentukan oleh pihak pemerintah. (Dami Atok/jat)

Pos terkait

loading...