JAKARTA – Pemerintah terus bergerak cepat mematangkan konsep megaproyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menargetkan cetak biru proyek raksasa ini akan selesai digodok pada tahun depan.
Langkah akselerasi ini diambil guna merespons ancaman ekologis yang kian nyata mengepung kawasan pesisir Jawa. AHY menegaskan bahwa proyek ini menjadi prioritas nasional karena menyangkut keselamatan puluhan juta jiwa.
“Terkait dengan giant sea wall tadi, giant sea wall ini juga sebuah megaproyek yang tengah dirumuskan dan dimatangkan karena tidak hanya melibatkan satu-dua pihak,” ujar AHY kepada wartawan usai menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) XI Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) di Wisma Senayan GBK, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2026).
AHY menjelaskan bahwa proyek ini memiliki skala yang sangat luas dan kompleks. Pemerintah tidak hanya membangun dinding pembatas, melainkan menyusun strategi integratif yang melibatkan lintas wilayah dan birokrasi.
Kawasan Pantura sendiri saat ini menghadapi tekanan berat akibat penurunan muka tanah (land subsidence) yang ekstrem. Kondisi tersebut diperparah oleh fenomena kenaikan permukaan air laut global yang terus mengikis garis pantai.
“Ini melibatkan lima provinsi, 20 kabupaten, lima kota se-Indonesia, terutama yang ada di Pantura. Kira-kira ada 50 juta masyarakat yang tinggal di wilayah Pantura,” tutur Menko Infrastruktur tersebut menekankan urgensi proyek.
Pemerintah berharap koordinasi intensif antar-kementerian dan pemerintah daerah dapat berjalan mulus. Konsep yang matang pada tahun depan akan menjadi landasan kuat sebelum eksekusi fisik di lapangan resmi dimulai demi menyelamatkan masa depan ekonomi dan ekologi Pulau Jawa.
