Bali  

Dipuji, Ketua Pecalang Minta Jokowi ke Bali Lakukan Empati

Denpasar – Ketua Pecalang se-Bali alias Manggala Agung Pasikian Pecalang Bali, I Made Mudra meminta presiden Jokowi untuk terjun langsung memantau pos pantau CIVID-19 di Bali. Harapannya mengundang presiden, agar mengetahui fakta keadaan Pecalang bertugas di lapangan.

“Kami bertugas jaga tiga shif. Pagi, sore dan malam. Kalau saya bersama anggota berjaga di pos pantau satu Covid-19, Banjar Celagi Gendong, Jalan Gunung Batu Karu Denpasar. Cuma berbekal doa dan empati dari organisasi masyarakat, jika ada memberi kami sebungkus nasi di pos jaga,”

“Seperti sekarang jarang sudah, saya bawa bekal sendiri dari rumah. Hampir tiga bulan kami berjaga silih berganti. Tulus ‘ngayah’ bukan lupa baru dipuji, tetap waspada. Atas dasar kemanusian kami juga butuh empati dari presiden,” kata I Made Mudra di Denpasar, Sabtu (23/5)

Paling penting diharapkan Made Mudra kepada pemerintah adalah stasiun radio komunikasi yang bisa mengases seluruh Bali. Dikatakan, di masing-masing desa memang sudah dibangun numun bulum bisa di akses mengcoper seluruh Desa adat.

“Jika suatu saat stasiun ini bisa terlaksana sangat memudahkan kami para pecalang untuk melakukan komunikasi sampai tingkat Banjar Adat di Bali secara langsung,” terangnya.

Keadaan senada juga disampaikan Dr. A.A Ngurah Adhiputra , M.Pd selaku Sekretaris Satgas Gotong Royong Desa Adat Denpasar meminta presiden atas dasar kemanusian biar bisa berempati terutama kepada Satgas Desa Adat. “Semoga Pak Jokowi tidak sekedar memuji namun juga melakukan langkah untuk berempati atas dasar kemanusiaan,” harapnya.

Sementara A.A Ngurah Sunendra, S.H selaku Ketua Satgas Desa Adat Denpasar berharap pemerintah memikirkan skala lebih besar dalam penanganan pandemi. Tidak berpedoman pada semangat ‘ngayah’ Pecalang dan Desa Adat. Namun lebih pada upaya untuk memberi pendampingan tim medis dan pelatihan tenaga penyuluhan dari tenaga akademis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.