Jadi Kambing Hitam, Peternak Jabar Minta Pemerintah Intervensi

Bandung – Kalangan petelur unggas terpaksa harus gulung tikar lantaran kesulitan mengembangkan usahanya ditengah pandemi covid-19 dan perekonomian yang belum stabil .

Ketua Pinsar Petelur Nasional Jawa Barat, Rieke Dewi SE mengatakan, para petelur ini mengalami ketidakpastian harga pakan yang terus naik.

“Sebelumnya harga pakan berkisar Rp 5.050, kemudian dimasa pandemi Rp6.500, lalu dihajar lagi dengan kisruh global yang sebabkan harga naik lagi RP7.000 sampai dengan Rp8.000. Karena harga pasar tidak menentu, serta tidak adanya kepastian Pemerintah dalam mengatur pasar, maka itu banyak teman-teman peternak yang gulung tikar”Katanya.

Dikatakan dia, lantaran harga pakan dilepas ke mekanisme pasar dan kemudian tidak adanya kesimbangan antara supply and demand, maka populasi peternak di jawa barat menjadi berkurang. Apalagi permintaan menurun antara 50-60%. Katanya, Rabu (31/8)

Rieke mengatakan, problem terberat daripada peternak unggas ini, terjadi diwaktu pandemi. Saat itu, aturan selalu berubah-rubah, kemudian Pasar tidak menentu, tidak ada kepastian dalam kebijakan. Sehingga berlanjut sampai hari ini, belum ada jalan keluarnya.

Lebih lanjut, Rieke menambahkan selama ini ada Kesalahan stigma yang di sematkan kepada para peternak. Setiap ada kenaikan harga telur kenapa selalu peternak yang di sorot , padahal 70% – 90% bahan pokok telur bergantung kepada variable cost pakan, jadi bergantung penuh kepada fluktuasi nilai dollar, karna pakan utama ayam petelur merupakan produk export.

“Jadi, selama kisruh Ini blm bisa di Kendalikan di industri Hulu sampai kapanpun juga end product (telur) Akan tetap berfluktuasi, Jadi kalau ingin mengendalikan harga telur murah, hrs di pastikan dulu pakannya juga tidak berubah, tentu Hal Ini Akan Sulit diimplementasikan , dan disinilah peran Serta regulator di perlukan, Karena peternak cuma pelaku usaha saja bukan produsen”tambah Rieke.

Dia berharap, Pemerintah dapat melakukan intervensi dengan memberikan stimulan atau kemudahan-kemudahan untuk mendorong peternak di Jawa Barat kembali pulih dan bangkit untuk mengembangkan usahanya.

“Harapan para peternak, agar ada campur tangan Pemerintah dalam mengambil langkah strategis untuk menghidupkan kemnali para peternak. Karena peternak memberikan sumbangsih ekonomi yang besar, apalagi hampir 79% peternakan unggas di Pulau Jawa berada di Jawa Barat, tentu ini adalah sebuah peluang ekonomi” Ucap Rieke.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.