JAKARTA — Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal kembali mengguncang PT Tokopedia setelah resmi dicaplok oleh raksasa teknologi asal China, TikTok. Kabar yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa e-commerce berlogo hijau ini tengah memangkas hingga 90 persen karyawannya pada awal Juli 2026.
Isu efisiensi besar-besaran ini mencuat setelah akun Instagram @ecommurz mengungkap bahwa ByteDance, induk usaha TikTok, hanya akan menyisakan sekitar 10 persen karyawan Tokopedia. Manajemen TikTok sendiri tidak membantah kabar penyesuaian tersebut, meskipun mereka enggan membeberkan jumlah pasti pekerja yang terdampak.
Juru Bicara TikTok menjelaskan bahwa langkah berat ini diambil demi menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) perusahaan. Restrukturisasi tersebut diklaim sebagai strategi untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi platform, komunitas kreator, serta para penjual.
“Ini bukan keputusan yang mudah, dan kami fokus untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekan kami yang terdampak selama masa transisi ini,” ujar Juru Bicara TikTok kepada detikcom, dikutip Jumat (3/7/2026).
Langkah efisiensi ini bukanlah hal baru bagi Tokopedia sejak mayoritas sahamnya dikuasai TikTok pada akhir 2023 silam. Gelombang pemangkasan terus terjadi setiap tahun, termasuk pada Juni 2024 yang lalu saat ByteDance mendepak 450 karyawan dengan alasan penguatan organisasi.
Direktur Corporate Affairs Tokopedia dan ShopTokopedia, Nuraini Razak, kala itu sempat menyatakan bahwa merger dua raksasa ini membutuhkan penyelarasan tim. “Kami harus melakukan penyesuaian yang diperlukan pada struktur organisasi sebagai bagian dari strategi perusahaan agar dapat terus tumbuh,” kata Nuraini dalam pernyataan resminya.
Memasuki pertengahan 2025, gelombang PHK kembali menyapu 420 karyawan Tokopedia karena organisasi dinilai terlalu ‘gemuk’. Sumber internal menyebutkan, tumpang tindih fungsi dengan tim TikTok Shop menjadi alasan utama efisiensi dilakukan. Akibatnya, fokus operasional di Indonesia kini hanya akan menyisakan tim bisnis dan pemasaran, sementara divisi teknis dan IT dialihkan langsung ke China.
