Surabaya – Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Pencak Silat Piala BHS menjadi ajang penting dalam menjaring atlet-atlet terbaik Jawa Timur untuk dipersiapkan menghadapi Pra Pekan Olahraga Nasional (Pra-PON) 2027 dan PON 2028. Kompetisi yang digelar di Surabaya itu diikuti sebanyak 390 atlet dari 37 kabupaten dan kota se-Jawa Timur.

Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jawa Timur Bambang Haryo Soekartono mengatakan kejuaraan tersebut bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari proses pembinaan atlet secara berkelanjutan untuk mempertahankan prestasi Jawa Timur di tingkat nasional.

“Ajang ini diikuti 390 peserta dari 37 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Ini menjadi bagian dari seleksi atlet yang dipersiapkan menuju Pra-PON 2027 dan PON 2028,” kata BHS usai pembukaan Kejurprov Pencak Silat di Surabaya, Minggu (17/5).

Menurut BHS, para atlet yang tampil dalam kejuaraan tersebut akan dipantau secara ketat oleh tim pelatih dan pengurus IPSI Jawa Timur. Atlet-atlet yang menunjukkan performa terbaik nantinya diproyeksikan mengikuti program pemusatan latihan daerah (Puslatda) sebagai tahapan pembinaan menuju kompetisi nasional.

Ia menjelaskan, program Puslatda sebenarnya telah dimulai sejak akhir tahun lalu untuk mempersiapkan atlet secara lebih matang menghadapi agenda olahraga nasional dalam beberapa tahun ke depan. Selain kemampuan teknik, pembinaan juga diarahkan pada peningkatan fisik, mental bertanding, serta disiplin atlet.

BHS menambahkan, proses seleksi atlet tidak berhenti pada Kejurprov kali ini. IPSI Jawa Timur masih akan menggelar seleksi lanjutan pada November mendatang guna menentukan atlet terbaik yang dinilai layak memperkuat kontingen Jawa Timur pada ajang Pra-PON maupun PON.

“Kami berharap dari kejuaraan ini muncul atlet-atlet terbaik yang nantinya akan kembali diseleksi secara objektif untuk memperkuat Jawa Timur,” ujarnya.

Selain fokus pada pembinaan prestasi, Bambang Haryo juga menyinggung pentingnya dukungan anggaran bagi dunia olahraga. Menurut dia, pembinaan atlet membutuhkan perhatian serius, terutama di tengah kondisi penyusutan anggaran yang dialami sejumlah lembaga olahraga, termasuk KONI dan Dinas Pemuda dan Olahraga.

Ia mengungkapkan, keterbatasan anggaran membuat sejumlah program pembinaan harus dilakukan secara mandiri agar persiapan atlet tetap berjalan optimal. Meski demikian, pihaknya tetap berupaya menjaga kualitas latihan dan kompetisi agar atlet Jawa Timur mampu bersaing di tingkat nasional.

Menurut BHS, investasi pada sektor olahraga memiliki dampak besar terhadap pembentukan generasi muda yang sehat, disiplin, dan berprestasi. Karena itu, ia berharap dukungan pemerintah maupun berbagai pihak terhadap pembinaan olahraga dapat terus ditingkatkan.