Kefamenanu, NTT, deliknews – Di tengah deru modernisasi dan banjir informasi digital, sebuah suara tua dari Tanah Timor kembali bergema. Suara itu bernama ” Takanab” , tradisi lisan masyarakat Dawan Atoen Meto yang menyimpan filsafat hidup, hukum adat, dan jejak sejarah leluhur.
Upaya menghidupkan kembali warisan itu kini mendapat ruang lewat Festival dan Seminar Budaya Takanab yang di gelar di Aula Gereja Katolik St. Antonius Padua Sasi Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), dan dihadiri oleh sejumlah Narasumber, Bapak Gabriel Olin, Usif Naktimun Swapraja Miomaffo, dan juga Drs. Mathias Subani, M. Pd., serta para undangan para Dosen, Mahasiswa/ i, pihak Sekolah Dasar, serta Sekolah Menengah Pertama, di kota Kefamenanu, Jumat, 22/5/2026.
Kegiatan ini di fasilitasi melalui program Dana Indonesiana 2025, skema pendanaan dari Kementerian Kebudayaan yang memang ditujukan untuk individu dan komunitas pegiat budaya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. TTU, Beato Yosef Frent Omenu, S. STP., dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga dan merawat tradisi lisan Dawan sebagai warisan budaya yang sarat nilai historis, pendidikan dan identitas masyarakat Timor.
Yosef menjelaskan bahwa ” Takanab” bukan sekedar tutur lisan biasa atau hiburan masa lalu. Bagi masyarakat Dawan Atoen Meto, Takanab adalah kristalisasi filsafat hidup, jejak sejarah, identitas, dan hukum adat yang harus diwariskan turun – temurun.
“Didalam setiap bait takanab terkandung nilai-nilai moral yang mendalam. Ajaran tentang penghormatan kepada Allah, hubungan antar manusia, serta ketaatan kepada Sang Pencipta atau Uis Neno dan leluhur, ” ujar Beato Yosef Frent Omenu, S. STP.
Ia juga menyoroti tantangan di era modernisasi dan digitalisasi, dimana tradis lisan seperti takanab berisiko terlupakan oleh generasi muda. Karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan TTU menyambut baik festival budaya ini sebagai langkah strategis perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan sesuai amanat UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Melalui kegiatan ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. TTU, Beato Yosef Frent Omenu, S. STP., menitipkan tiga pesan penting : – Revitalisasi dalam pendidikan dan kurikulum. Memasukan takanab sebagai bagian hidup dari muatan lokal di sekolah.
– Dokumentasi dan digitalisasi. Merekam, menulis, dan menyimpan tradisi lisan agar tidak hilang ditelan waktu.
– Kebudayaan sebagai penggerak . Menjadikan budaya sebagai identitas dan modal sosial pembangunan daerah.
Tokoh adat, Usif Naktimun Swapraja Miomaffo, Gabriel Olin, menyambut baik inisiatif ini. Ia menyebut seminar tentang budaya lisan takanab yang melibatkan dosen dan mahasiswa sudah berjalan sesuai kaidah budaya.
“Ini adalah budaya dan sesungguhnya untuk generasi-generasi dari belakang ini, regenerasi agar mereka dapat mengetahui tentang seminar ini. Kami mengharapkan agar seminar ini berlanjut agar generasi-generasi belakang dapat lebih memahami dan membawakan diwaktu mendatang, ” kata pemangku ketujuh kefektoran Naktimun, kepada Media ini.
Harapan serupa disampaikan Ketua Panitia, Yanuarius Sani Feka, S.Pd., M.Pd., sejak beberapa bulan lalu, tim panitia sudah turun ke sekolah – sekolah untuk sosialisasi. Responnya positif karena takanab masuk dalam muatan lokal wajib.
“Kita berkunjung ke sekolah – sekolah dan melakukan sosialisasi tentang takanab. Sekolah merespon positif karena bagian dari mata pelajaran mulok yan menjadi kewajiban” ujar Yanuarius Sani Feka, S.Pd., M.Pd
Yanuarius menambahkan, Dana Indonesiana terbuka untuk individu dan komunitas yang peduli budaya. Bentuk fasilitasi dapat berupa pelestarian benda budaya seperti patung, hingga pendanaan untuk riset sejarah lokal tergantung proposal yang diajukan.
Kepada Media, Yanuarius juga menyinggung persoalan yang lebih dalam : krisis identitas di kalangan para pelajar TTU.
“Berbicara tentang takanab yang bagian dari tradisi lisan adalah identitas kita orang Kefa. Setelah saya analisa, ada beberapa faktor yang jadi alasan gengsi dan juga merasa minder, ” ungkapnya.
Menurutnya, festival dan kegiatan serupa adalah cara untuk mempromosikan sekaligus menumbuhkan motivasi bahwa identitas budaya itu penting.
“Kalau hari ini bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Kalau tidak ada pelestarian, akhirnya dengan sendirinya akan hilang. Sehingga dengan adanya kegiatan ini, diharapkan adanya kegiatan – kegiatan berlanjut berkaitan dengan budaya lokal” tutupnya. (Maryo Usboko)
