MOSKOW — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengajak seluruh diaspora Indonesia di Federasi Rusia untuk mengambil peran lebih aktif dalam pembangunan nasional. Pemerintah menantang para diaspora berkontribusi nyata melalui penguasaan teknologi, investasi, hingga perluasan jaringan perdagangan global.
Ajakan strategis tersebut disampaikan Menko AHY saat menggelar pertemuan dengan Duta Besar RI untuk Federasi Rusia, Jose A.M. Tavares, beserta jajaran KBRI dan perwakilan diaspora di Moskow, Minggu (31/5/2026) waktu setempat.
Agenda ini merupakan bagian dari rangkaian Konsultasi Bilateral II Indonesia-Rusia sekaligus tindak lanjut Deklarasi Kemitraan Strategis yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin pada Juni 2025 lalu.
Dalam kesempatan tersebut, AHY memaparkan sejumlah proyek prioritas nasional yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo demi mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Beberapa proyek raksasa yang menjadi fokus antara lain pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa, Program Pembangunan 3 Juta Rumah, hingga kelanjutan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pemerintah menilai posisi diaspora di Rusia sangat strategis untuk mendukung swasembada pangan, energi, dan air melalui transfer pengetahuan. “Diaspora Indonesia bukan hanya representasi bangsa di luar negeri, melainkan juga mitra strategis pembangunan nasional,” ujar AHY dalam keterangan tertulisnya, Rabu (3/6/2026).
Lebih lanjut, Menko AHY meminta para diaspora membantu memperluas jaringan distribusi produk unggulan Indonesia di pasar Rusia, seperti komoditas kopi, rempah-rempah, dan hasil perikanan. Keahlian para diaspora diharapkan mampu mempermudah akses pasar bagi produk lokal di luar negeri.
”Kami berharap diaspora dapat menjadi bagian dari solusi untuk memperluas jejaring perdagangan Indonesia di Rusia,” kata Menko AHY menambahkan.
Di akhir pertemuan, Menko AHY menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi Dubes Jose A.M. Tavares dan jajaran KBRI Moskow dalam mengawal diplomasi bilateral. Ia menegaskan pentingnya konsolidasi data diaspora berbasis keahlian agar kontribusi mereka berjalan lebih terstruktur demi Indonesia yang berdaya saing global.
