Selasa, 20 Agustus 2019 - 05:05 WIB

Banggar DPR dan Sri Mulyani

Banggar DPR dan Sri Mulyani

Banggar DPR Minta Pemerintah Siapkan Strategi Hadapi Tekanan

Jakarta – Wakil Ketua Badan Anggaran(Banggar) DPR RI Said Abdullah memperkirakan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar masih belum mereda sebagai dampak dari kondisi ekonomi global yang belum membaik. Ia menilai selain imbas normalisasi kebijakan moneter The Fed, pelemahan rupiah juga dipicu perang dagang antara China dan AS yang kemudian menjadi perang mata uang. Said meminta pemerintah menyiapkan grand strategy mengantisipasi dampak parang dagang AS dan China ini.

“Jadi, kalau dua negara raksasa ekonomi ini berperang, maka akan membuat arus perdagangan dan rantai pasar global terhambat. Alhasil, kinerja ekspor Indonesia pun berpeluang terganggu karena penurunan permintaan,” jelas Said Abdullah saat rapat kerja dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Ruang Rapat Banggar DPR RI, Senin, (19/8).

Ia menillai bahwa situasi global tersebut sangat mempengaruhi perekonomian Indonesia, adapun proyeksi nilai tukar rupiah senilai Rp 14.400 menurutnya sudah sangat rasional. “Kondisi ini melemahkan nilai tukar rupiah. Makanya proyeksi nilai tukar dalam RAPBN 2020 diusulkan pada angka Rp 14.400 sangat rasionable,” ujar Said.

Said juga sedikit mengulas tentang keterangan pemerintah atas RUU tentang APBN 2020 beserta Nota Keuangan yang pertumbuhan ekonominya hanya ditargetkan 5,3 %. Hal ini menunjukkan rupiah masih akan mengalami tekanan pada tahun 2020. Faktor eksternal kebijakan suku bunga The Fed serta perang dagang AS dan China akan terus berdampak signifikan terhadap nilai tukar rupiah di 2020.

“Masih rentannya fundamental ekonomi nasional yakni lemahnya ekspor, arus modal investasi melambat, menjadi titik lemah rupiah dan tetap akan mempengaruhi kinerja rupiah tahun 2020,” jelas Politisi PDI-Perjuangan tersebut.

Said meminta pemerintah menyiapkan grand strategy mengantisipasi dampak parang dagang AS dan China ini. Sebab, efek berlanjutnya perang dagang AS dan China berpengaruh signifikan terhadap kinerja perekonomian Indonesia. Pasalnya, China dan AS merupakan negara tujuan ekspor terbesar Indonesia.

“Saya memperkirakan, 2020 tetap masih ada tekanan eksternal. Untuk itu, fundamental ekonomi di dalam negeri harus diperkuat. Ini penting agar kurs, inflasi, tingkat bunga dan sebagainya tidak terlalu bergejolak,” tandasnya.

Artikel ini telah dibaca 610 kali

loading...
Baca Lainnya

Bamsoet ketua MPR, Airlangga Ketum Golkar

Jakarta – Dukungan suara mayoritas membuat Bambang Soesatyo atau Bamsoet mulus meraih kursi Ketua MPR...

4 Oktober 2019, 13:20 WIB

Jadi Anggota DPR-RI, Mulan Jameela Siap Perjuangkan Aspirasi Rakyat

Jakarta – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Mulan Jameela dari dapil Jabar XI Garut, Tasikmalaya...

Hilarry

4 Oktober 2019, 12:02 WIB

Cantik, Ini Hillary Brigita Lasut, Anggota DPR Termuda

Jakarta – Anggota DPR RI Periode 2019-2024 termuda, Hillary Brigitta Lasut, 23 tahun akan menjadi...

1 Oktober 2019, 12:15 WIB

Banggar DPR Minta Pemerintah Siapkan Strategi Hadapi Tekanan

Jakarta – Wakil Ketua Badan Anggaran(Banggar) DPR RI Said Abdullah memperkirakan tekanan nilai tukar rupiah...

20 Agustus 2019, 05:05 WIB

Komisi V DPR RI Desak Kementerian Perhubungan Tunda Aturan Bagasi Berbayar

JAKARTA – Kebijakan bagasi berbayar yang diterapkan oleh maskapai penerbangan sungguh membuat masyarakat mengeluh. melihat...

30 Januari 2019, 15:40 WIB

RUU Kekerasan Seksual Pro-zina, Kata Bamsoet Begini

Jakarta – Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) membantah Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS)...

Bambang Soesatyo

30 Januari 2019, 14:29 WIB

loading...