KUPANG – Dunia medis Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah berduka. Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau yang akrab disapa dr. Icha, ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Jumat (26/6/2026).
Kabar kepergian almarhumah mengejutkan publik, terutama karena ia sempat menjadi sorotan setelah mengaku mengalami intimidasi saat bertugas di RS Leona, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Paman almarhumah, Victor Manbait, mengungkapkan bahwa keluarga menerima kabar duka tersebut pada Jumat petang. Menurut informasi yang diterima, dr. Icha ditemukan dalam kondisi tergantung di kamarnya.
“Sekitar pukul 18.30 Wita kami menerima kabar bahwa Icha telah berpulang ke Rumah Bapa di Surga. Ini menjadi pukulan yang sangat berat bagi seluruh keluarga,” ujar Victor kepada Kompas.com, Jumat malam.
Victor memastikan, hasil pemeriksaan luar oleh petugas tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan yang tidak wajar. Pihak keluarga pun sepakat untuk tidak melakukan autopsi dan langsung menyemayamkan jenazah di Rumah Duka Baumata.
Sebelum meninggal dunia, dr. Icha sempat menjalani perawatan medis selama enam hari sejak 15 Juni 2026. Ia sempat diperbolehkan pulang untuk rawat jalan pada 21 Juni 2026 setelah kondisinya membaik.
Pihak keluarga berharap masyarakat menghormati privasi mereka di tengah suasana berkabung. Victor juga mengimbau publik untuk tidak berspekulasi mengenai penyebab pasti kematian almarhumah.
“Kami berharap seluruh tenaga medis dapat memperoleh perlindungan sehingga dapat menjalankan tugas kemanusiaan dengan aman,” tegas Victor.
Kronologi Dugaan Intimidasi
Sebelum kejadian ini, nama dr. Icha sempat ramai diperbincangkan terkait insiden di IGD RS Leona. Saat itu, dr. Icha tengah menangani seorang pasien anak korban gigitan ular.
Victor menyebutkan, dr. Icha telah bekerja sesuai prosedur, namun situasi memanas ketika keluarga pasien meminta vaksin yang tidak tersedia. Dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU kemudian mendatangi lokasi dan melakukan protes keras.
Salah satu anggota DPRD bahkan disebut menunjuk wajah dr. Icha. Insiden tersebut membuat almarhumah mengalami tekanan psikologis hingga menangis saat bertugas.
Bantahan Anggota DPRD
Di sisi lain, dua anggota DPRD TTU yang terseret dalam kasus ini, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi. Mereka berdalih bahwa nada bicara yang meninggi terjadi hanya karena kepanikan melihat kondisi pasien.
“Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi,” ujar Therensius.
Norbertus menambahkan, pihaknya bahkan sudah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak rumah sakit setelah situasi tenang. Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penanganan terhadap kasus meninggalnya dr. Icha.
Pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait apakah ada kaitan antara kematian almarhumah dengan peristiwa intimidasi yang terjadi sebelumnya.
