Langsung ke konten
Sabtu, 7 November 2026
Politik

Prabowo Tiba-tiba Telepon Bahlil di Tengah Isu Penyadapan, Ada Apa?

Foto: BPMI Setpres

MALUKU — Suasana pelantikan pengurus DPD Partai Golkar Maluku mendadak jeda ketika Menteri Hilirisasi dan Industri, Bahlil Lahadalia, menerima panggilan telepon penting dari Presiden Prabowo Subianto. Telepon mendadak itu terjadi di tengah derasnya isu miring yang menyeret nama Bahlil terkait kasus dugaan penyadapan terhadap kepala negara.

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang tengah berpidato di atas podium terpaksa menghentikan penyampaiannya. Hendrik memilih menunggu hingga sang Ketua Umum Partai Golkar tersebut kembali masuk ke dalam ruangan acara.

“Saya menyetop dulu pidato karena Pak Presiden sementara telepon Pak Bahlil,” ujar Hendrik di Ambon, Sabtu (7/11).

Tak berselang lama, Bahlil kembali ke ruang acara dengan menebar senyuman. Pidato Gubernur pun langsung dilanjutkan dengan suasana yang kembali cair dan disambut tepuk tangan meriah dari para kader partai.

“Kalau pak ketua masuk dengan wajah tersenyum maka barang mantap semua,” ucap Hendrik sambil tertawa.

Bahlil menegaskan bahwa panggilan dari kepala negara tersebut hanya sebatas menitipkan salam hormat kepada Gubernur Maluku. Ia memastikan tidak ada pembicaraan luar biasa di balik sambungan telepon mendadak tersebut.

Sebelumnya, Bahlil dihadapkan pada tudingan miring yang menyebutnya ikut serta dalam pertemuan petinggi partai sebelum empat jenderal polisi ditangkap. Ia dengan tegas membantah isu keterlibatan dirinya dalam kelompok penyadapan terhadap Presiden.

“Gimana saya ikut penyadapan Presiden, saya saja disadap,” ujar Bahlil dalam pidatonya.

Bahlil lantas mendesak Bareskrim Polri agar mengusut tuntas kasus penyadapan ini secara transparan. Ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang mencoba memelintir situasi politik demi kepentingan kelompok tertentu di ruang demokrasi.

“Kita meminta kepada aparat penegak hukum melakukan penyelidikan tuntas, transparan agar lebih terang benderang,” tutur Bahlil.

Ia mengaku baru mengetahui isu liar tersebut setibanya di Ambon setelah menempuh perjalanan udara. Bahlil menduga narasi tersebut dihembuskan oleh seorang narasumber di program podcast yang merupakan seniornya sendiri.

“Itu senior saya, selalu tampil di program podcast, selalu pakai kacamata, sok pintar bicara,” pungkasnya.