JAKARTA — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat terhadap rupiah pada perdagangan Senin pagi, 25 Mei 2026. Mata uang Negeri Paman Sam tercatat berada di level Rp 17.717 atau naik 50 poin setara 0,28% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Bloomberg, penguatan dolar AS terjadi di tengah pergerakan mata uang global yang cenderung bervariasi namun relatif stagnan. Kenaikan kurs tersebut sekaligus menandakan tekanan terhadap rupiah masih belum mereda pada awal pekan ini.
Pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia menunjukkan arah yang berbeda-beda. Terhadap dolar Kanada, franc Swiss, dan dolar Hong Kong, posisi dolar AS terpantau cenderung stagnan tanpa perubahan signifikan.
Namun, mata uang AS justru mengalami pelemahan terhadap beberapa mata uang Asia. Dolar AS tercatat turun 0,30% terhadap yen Jepang. Sementara terhadap won Korea Selatan, dolar AS melemah hingga 7,42%.
Pengamat pasar uang menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati kondisi ekonomi global dan arus modal asing di pasar keuangan domestik.
“Penguatan dolar AS terhadap rupiah menunjukkan investor masih cenderung mencari aset aman di tengah ketidakpastian global,” ujar seorang analis pasar uang dalam laporan harian yang dikutip Senin (25/5/2026).
Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap biaya impor dan beban utang berbasis dolar AS. Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu langkah lanjutan otoritas moneter Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, pergerakan mata uang Asia yang beragam menunjukkan respons pasar terhadap dinamika ekonomi global belum seragam. Investor saat ini masih memantau perkembangan inflasi global, suku bunga, hingga tensi geopolitik yang mempengaruhi arah perdagangan mata uang dunia.
Hingga perdagangan pagi ini, rupiah masih bergerak di zona merah terhadap dolar AS. Pelaku pasar memperkirakan volatilitas nilai tukar masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
