JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (26/5/2026) seiring meningkatnya harapan pasar terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Prospek meredanya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu optimisme pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 5,90 atau sekitar 6,1% menjadi US$ 90,73 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent juga terkoreksi tajam hingga US$ 7,24 dan berada di level US$ 96,30 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran tengah membahas rencana pembukaan kembali Selat Hormuz sekitar 30 hari setelah tercapainya kesepakatan damai. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia yang sempat terganggu akibat konflik berkepanjangan antara kedua negara.

Negosiator utama Iran bersama Menteri Luar Negeri Iran saat ini diketahui berada di Doha, Qatar. Mereka melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Qatar guna membahas kemungkinan penyelesaian perang yang telah berlangsung selama tiga bulan.

Pemerintah Iran mengakui adanya kemajuan dalam sejumlah isu penting yang dibahas bersama Amerika Serikat. Namun, Teheran menegaskan bahwa proses menuju kesepakatan final masih membutuhkan waktu dan belum bisa dipastikan dalam waktu dekat.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pembahasan antara kedua negara memang menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, ia membantah anggapan bahwa perjanjian damai akan segera diteken.

“Memang benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan pada sebagian besar isu yang sedang dibahas, tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan perjanjian sudah dekat, tidak ada yang dapat menyampaikan klaim semacam itu,” ujar Baghaei seperti dikutip AFP, Senin (25/5).

Pelaku pasar kini menaruh perhatian besar pada perkembangan negosiasi tersebut. Jika kesepakatan benar-benar tercapai dan Selat Hormuz kembali dibuka penuh, pasokan minyak global diperkirakan akan meningkat sehingga berpotensi menekan harga lebih lanjut.

Di sisi lain, analis menilai volatilitas pasar energi masih akan tinggi selama proses diplomasi berlangsung. Pasar tetap sensitif terhadap setiap perkembangan politik maupun pernyataan resmi dari AS dan Iran terkait arah pembicaraan damai tersebut.