JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat terhadap sejumlah mata uang asing pada penutupan perdagangan pekan ini. Mata uang Garuda babak belur menghadapi keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura yang terus mencetak rekor tertinggi.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (29/5/2026), dolar AS sempat melesat tajam dan menyentuh level Rp 17.905 menjelang penutupan pasar. Meski berhasil memangkas koreksi di akhir sesi, rupiah tetap ditutup melemah 0,20% sehingga menempatkan dolar AS di posisi Rp 17.880,5.
Kondisi yang tidak kalah memprihatinkan juga terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura. Data Tradingview mencatat mata uang Negeri Singa tersebut sempat terbang ke level tertinggi sepanjang masa di angka Rp 14.014,69 per dolar Singapura.
Sama seperti performanya terhadap greenback, rupiah hanya mampu sedikit memotong ketertinggalan di akhir perdagangan ke level Rp 13.995 per dolar Singapura. Secara keseluruhan, dolar Singapura sukses menguat 0,17% dalam sehari dan memperpanjang dominasinya sebesar 7,79% secara year to date (ytd).
Faktor domestik ditengarai menjadi pemicu utama ambruknya nilai tukar mata uang nasional belakangan ini. Tekanan hebat ini terjadi akibat persoalan struktural pada perekonomian dalam negeri, terutama defisit neraca transaksi berjalan karena ketergantungan impor energi yang tinggi seperti minyak mentah.
Melihat tren negatif yang belum mereda, pelaku pasar diimbau untuk bersiap menghadapi potensi pelemahan rupiah yang lebih dalam. Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang AS berpeluang besar menjebol psikologis baru pada pekan depan.
“Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200,” kata Ibrahim saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).
Catatan performa buruk ini sekaligus memperpanjang rapor merah mata uang Garuda sepanjang tahun berjalan. Sejak awal tahun hingga akhir Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat sudah terdepresiasi hingga 7,20% di hadapan dolar AS.
