Langsung ke konten
Rabu, 28 Oktober 2026
Ekonomi & Bisnis

Dolar AS Melemah ke Rp 17.971, Rupiah Menguat pada Awal Perdagangan

Ilustrasi dolar AS (foto: Pexels/Pixabay)

JAKARTA – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah mengalami pelemahan pada perdagangan Rabu (5/8/2026) pagi. Mata uang Negeri Paman Sam turun ke level Rp17.971 per dolar AS, memberikan ruang penguatan bagi rupiah setelah beberapa waktu berada di bawah tekanan.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar dolar AS berada di posisi Rp17.971 atau turun 56 poin, setara dengan pelemahan sebesar 0,31 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini menunjukkan adanya tekanan terhadap dolar AS di pasar valuta asing pada awal perdagangan hari ini.

Pelemahan dolar AS terhadap rupiah juga terjadi di tengah pergerakan yang bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa tekanan terhadap dolar tidak terjadi secara merata, melainkan dipengaruhi oleh dinamika masing-masing pasar dan mata uang.

Mengacu pada data Bloomberg, dolar AS tercatat melemah terhadap yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan China. Mata uang AS turun 0,06 persen terhadap yen Jepang, melemah 0,02 persen terhadap dolar Singapura, serta turun 0,01 persen terhadap yuan China.

Di sisi lain, performa dolar AS justru menguat terhadap beberapa mata uang lain. Mata uang tersebut naik 0,3 persen terhadap pound sterling dan menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar Australia. Sementara itu, pergerakan dolar AS terhadap euro tercatat stagnan atau tidak mengalami perubahan.

Data Bloomberg menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar pada perdagangan hari ini masih dipengaruhi oleh dinamika pasar global yang membuat arah penguatan maupun pelemahan dolar berbeda-beda terhadap setiap mata uang utama.

Mengutip data Bloomberg, pada Rabu (5/8/2026), dolar AS diperdagangkan di level Rp17.971 atau turun 56 poin dari posisi sebelumnya. Sementara itu, terhadap mata uang utama dunia, pergerakan dolar menunjukkan tren yang beragam, dengan pelemahan terhadap sejumlah mata uang Asia namun masih mampu menguat terhadap pound sterling dan dolar Australia.

Pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan ekonomi global serta sentimen pasar keuangan internasional yang berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam beberapa hari ke depan. Fluktuasi dolar AS juga masih menjadi perhatian karena berdampak terhadap aktivitas perdagangan, investasi, serta biaya impor di berbagai negara, termasuk Indonesia.