JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tipis pada perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp18.149 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan pergerakan rupiah cenderung datar akibat sikap wait and see investor. Pasar saat ini tengah menantikan rilis serentetan data ekonomi domestik penting.
“Rupiah diperkirakan dibuka datar, dengan investor menantikan serentetan data ekonomi domestik siang ini, di antaranya inflasi dan perdagangan,” ujar Lukman di Jakarta pada Senin (2/11/2026).
Ia merinci, tingkat inflasi domestik diprediksi mengalami kenaikan tipis dari 3,28 persen menjadi 3,3 persen. Sementara itu, neraca perdagangan nasional diperkirakan masih mencatatkan surplus sebesar 1,9 miliar dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari sentimen global, terutama penurunan harga minyak dunia. Penurunan ini dipicu oleh harapan adanya perundingan damai guna mengakhiri konflik antara AS dan Iran.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengungkapkan bahwa Teheran dan Washington berpotensi menggelar perundingan. Syaratnya, Washington harus menerima tujuh ketentuan yang diajukan pihak Iran.
Meski demikian, Lukman menyebut sentimen domestik masih dibayangi tekanan akibat aksi sell-off oleh investor asing. Tercatat sepanjang pekan lalu, pelaku pasar asing melakukan net sell hingga Rp3 triliun di seluruh pasar.
Tekanan eksternal tersebut turut diperparah oleh mayoritas mata uang kawasan Asia yang dibuka melemah. Secara keseluruhan, rupiah diprediksi bergerak di kisaran rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS sepanjang hari ini.
