JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan reformasi besar-besaran untuk memulihkan kepercayaan investor pasar modal domestik. Langkah tegas ini diambil usai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berulang kali terguncang akibat tekanan dan evaluasi ketat dari indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Guncangan pasar modal bermula saat MSCI menyoroti transparansi serta perhitungan free float saham di Indonesia, yang memicu aksi jual masif hingga perdagangan sempat dihentikan sementara (trading halt). Menanggapi dinamika tersebut, otoritas merumuskan delapan rencana aksi strategis, mulai dari peningkatkan batas minimum free float menjadi 15 persen hingga kewajiban keterbukaan Ultimate Beneficial Ownership (UBO).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa pembenahan regulasi dan penegakan hukum telah berjalan secara maksimal sejak awal tahun. OJK bahkan mencatat penjatuhan sanksi denda administratif hingga Rp2,23 triliun kepada 166 pihak terkait pelanggaran di bidang pasar modal.
“Enggak, enggak. Ini kita tuh dari Januari, sejak ada kejadian Januari kemarin, kita itu udah sangat-sangat melakukan reform besar-besaran. Kita tuh all out loh,” ujar Friderica usai menghadiri acara Ijtima’ Sanawi 2026 di Jakarta.
Sebagai bentuk transparansi, BEI juga menetapkan kebijakan baru dengan mengeluarkan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Langkah ini diambil guna menjaga agar pergerakan indeks acuan tetap mencerminkan kondisi pasar yang wajar.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa saham HSC memiliki bobot sekitar 18 persen terhadap IHSG namun menyimpan risiko tinggi.
“Oleh karena itu, untuk memberikan gambaran yang lebih wajar dari IHSG, kami akan mengeluarkan seluruh saham dalam HSC dari IHSG,” tegas Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta.
Upaya pembenahan menyeluruh ini mendapat apresiasi positif dari kalangan analis. Kebijakan anyar dinilai mampu menjawab keraguan investor global sekaligus meningkatkan likuiditas pasar secara berkelanjutan.
Pengamat Pasar Modal, Hans Kwee, menilai delapan agenda reformasi yang dijalankan otoritas sudah berada di jalur yang tepat.
“Itu kita lihat dari 8 agenda reformasi otoritas beberapa sudah dilakukan. Ini bisa menjawab keraguan MSCI, terkait transparansi free float sudah buka 1 persen,” kata Hans.
