Langsung ke konten
Rabu, 28 Oktober 2026
Nasional

Indonesia Raja Sawit Dunia, Mentan Amran Bidik Lonjakan Ekspor Lewat Hilirisasi

Sumber foto: Instagram resmi Kementerian Sekretariat Negara

JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan hilirisasi industri kelapa sawit menjadi strategi utama untuk meningkatkan nilai ekspor Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting agar komoditas unggulan nasional tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi sehingga mampu memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurut Amran, posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia merupakan modal besar yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu, pemerintah terus mendorong penguatan industri hilir agar produk sawit Indonesia semakin kompetitif di pasar global.

“Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80 persen produksi CPO dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (4/8/2026).

Amran menjelaskan, pengembangan industri hilir tidak hanya bertujuan meningkatkan volume ekspor, tetapi juga menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Dengan demikian, devisa negara dapat bertambah sekaligus membuka peluang investasi, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan para pelaku usaha dan petani.

Kementerian Pertanian pun terus mendorong berbagai kebijakan yang mendukung penguatan hilirisasi komoditas strategis, terutama sawit. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing Indonesia di tengah meningkatnya permintaan produk olahan sawit di pasar internasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren positif ekspor sektor pertanian sepanjang semester pertama 2026. Salah satu penyumbang terbesar berasal dari ekspor CPO beserta produk turunannya yang didukung kenaikan harga sawit di pasar global.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor CPO dan produk turunannya pada periode Januari hingga Juni 2026 tumbuh sekitar 7,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai ekspor komoditas pertanian, kehutanan, dan perikanan pada Juni 2026 mencapai US$485,8 juta.

Secara kumulatif, ekspor sektor tersebut sepanjang Januari hingga Juni 2026 menembus US$2,59 miliar, atau meningkat 1,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa strategi peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi mulai memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekspor nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama industri sawit dunia.