Video  

Emma Memburu Nilai A Selain Ekonomi dan Matematika

emma-memburu-nilai-a-selain-ekonomi-dan-matematika

NEW YORK-KEMPALAN: Usianya baru menginjak 19 tahun pada 13 November mendatang. Pantas apabila petenis Inggris Emma Raducanu tidak banyak menjadi sorotan sebelum turnamen tenis AS Terbuka 2021 ini dimulai.

Dia bahkan tak bermimpi bisa menjejak final salah satu turnamen tenis tertua di dunia itu. Tiket pesawat yang sudah dia pesan awalnya pun akan membawanya pulang ke London sebelum semifinal.

Nyatanya, Emma seakan belum terbangun dari mimpi-mimpinya. Di Flushing Meadows, New York, Jumat (10/9), Emma melangkah ke final AS Terbuka setelah mengalahkan petenis 26 tahun Maria Sakkari dari Yunani, 6-1 6-4.

Final pertamanya. Petenis berperingkat 150 WTA dan sekarang menuju ke peringkat ke-50 WTA tersebut sudah ditunggu sesama petenis muda, Leylah Fernandez. Kedua petenis belia itu akan memperebutkan gelar juara AS Terbuka hari Minggu besok (12/9).

Padahal bagi Emma, belum kering ingatannnya tentang kegagalannya dalam debut Grand Slam di turnamen Wimbledon, Juni lalu. Berbekal wild card, dia sempat menuai sensasi menjadi petenis Inggris termuda yang bisa mencapai babak 16 Besar turnamen tenis Wimbledon.

Mimpi buruknya terjadi di putaran keempat. Bukan karena dikalahkan Ajla Tomljanovic. Melainkan karena dia mengalami sesak nafas. Emma pun sempat down gara-gara kegagalannya itu.

Tak kurang musisi top Inggris Liam Gallagher, legenda sepakbola Inggris Gary Lineker, sampai bomber Manchester United dan timnas Inggris Marcus Rashford yang menyemangatinya. Hingga Emma pun mulai bangkit.

Dan itu dimulai di sekolahnya. Lima hari setelah kejadian di Wimbledon, Emma mampu mendapatkan nilai A untuk pelajaran Matematika dan Ekonomi. Karenanya, Minggu besok dia pun ingin mendapatkan nilai A di AS Terbuka.

Emma Raducanu.

’’Gila, keren, dan benar-benar menakjubkan. Saya tidak pernah mengira bisa sampai sini (final Grand Slam) secepat ini,’’ ucap Emma kepada BBC Radio 5 Live. Dia jadi petenis Inggris pertama yang mencapai final Grand Slam setelah Virgina Wade pada 1977. Sudah 44 tahun lalu!

Dalam kisahnya yang dikutip dari Sky, terungkaplah apa yang jadi kaitan antara nilai A Emma di Matematika dan Ekonomi dengan karirnya di dunia tenis. ’’Saya merasa lebih cerdik di lapangan secara taktik ketimbang yang lain,’’ ungkap Emma dalam sebuah wawancaranya untuk situs resmi WTA.

Begitu pula penuturan dari James Carlton, manajer Bromley Tennis Centre, yang menjadi tempat Emma berlatih dari usia 10 tahun sampai 16 tahun. Kebetulan, Bromley Tennis Centre itu terletak di sebelah sekolah Emma.

’’Dia akan ke sini sebelum, sesudah, dan terkadang saat di sela-sela belajarnya di datang ke sini,’’ kenang Carlton. ’’Dia berlatih sangat keras karena saya tahu dia memang seorang gadis bertekad besar,’’ tambah Carlton.

Rata-rata, Emma bisa menghabiskan waktu tiga sampai empat jam per harinya berlatih di Bromley Tennis Centre. Itu belum ditambah dengan pergi ke gym. ’’Kami sering menjumpainya mengerjakan tugas sekolah di sela-sela sesi latihan,’’ kenang Carlton.

Makanya, dia pun bangga dengan fokus berimbang Emma antara prestasi akademi dan di lapangan tenis. ’’Mencatatkan prestasi di tenis profesional sambil mempertahankan sekolah dan prestasi akademisnya, itu jauh lebih mengesankan,’’ puji Carlton. Bisakah mendapat nilai A lagi, Emma? (Sky News, BBC Sport, Yunita Mega Pratiwi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.