JAKARTA — Fenomena jam kerja berlebihan atau overwork masih menghantuai jutaan tenaga kerja di Indonesia. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 25,47 persen dari total 146,54 juta penduduk bekerja menghabiskan waktu lebih dari 49 jam per minggu, alias melampaui batas wajar ketentuan regulasi ketenagakerjaan.
Rincian data BPS menunjukkan proporsi pekerja laki-laki yang mengalami overwork mencapai 28,50 persen, sementara pekerja perempuan berada di angka 20,91 persen. Kondisi ini tergolong berisiko tinggi karena Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 jo PP Nomor 35 Tahun 2021 idealnya membatasi waktu kerja maksimal 40 jam dalam seminggu.
Bekerja melampaui batas kemampuan tubuh terbukti membawa dampak buruk yang signifikan, baik terhadap kesehatan fisik maupun mental. Riset medis mengonfirmasi bahwa orang yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu rentan mengalami stres berat, penurunan kekebalan tubuh, hingga risiko gangguan kardiovaskular.
Psikolog dari Cleveland Clinic, Adam Borland, PsyD, mengibaratkan kondisi tubuh manusia layaknya kendaraan mesin yang kehabisan bahan bakar. Ketika seseorang menguras cadangan energi fisik dan emosional secara terus-menerus demi pekerjaan, seluruh fungsi kesehatan tubuhnya akan berangsur menurun.
“Mobil tidak dapat bekerja secara optimal ketika tangki bahan bakarnya kosong. Begitu pula dengan tubuh kita. Kesehatan dapat terganggu ketika cadangan energi fisik dan emosional kita sudah terkuras habis,” kata Dr. Adam Borland menjelaskan.
Dr. Borland membeberkan sejumlah gejala awal overwork, mulai dari munculnya kecemasan tinggi, gangguan tidur, kelelahan kronis, hingga fenomena burnout. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu penyakit depresi, hipertensi, hingga konsentrasi tumpul akibat brain fog.
Guna mencegah dampak mematikan tersebut, masyarakat diimbau untuk mulai berani menerapkan batasan tegas antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance). Jika tekanan di tempat kerja terasa sulit dikendalikan, pekerja disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga profesional kesehatan mental.
“Perawatan diri tidak jarang disalahartikan sebagai sikap egois. Kita perlu mengubah pola pikir tersebut. Saya mendorong pasien untuk meluangkan waktu setiap hari untuk merawat diri, dengan tujuan memprioritaskan kesejahteraan emosional dan fisik,” ujar Dr. Borland menegaskan.
