Langsung ke konten
Selasa, 27 Oktober 2026
Kesehatan

Wajah Pucat hingga Sulit Fokus: Waspada Bahaya Tersembunyi di Balik Kekurangan Zat Besi

JAKARTA – Rutinitas harian yang padat sering kali membuat banyak orang mengabaikan sinyal kesehatan penting. Kondisi tubuh yang mudah mengantuk, sulit fokus, hingga kerontokan rambut kerap dianggap sebagai konsekuensi beban kerja atau kurang tidur semata.

Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi indikator adanya penurunan kadar zat besi dalam tubuh. Kondisi ini bersifat sistemik, yang artinya memengaruhi energi, suasana hati, hingga kondisi kesehatan kulit, kuku, dan rambut secara keseluruhan.

Zat besi memegang peranan krusial dalam pembentukan hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang mengedarkan oksigen ke seluruh organ tubuh. Ketika cadangan zat besi merosot, pasokan oksigen ke jaringan tubuh ikut terhambat.

Menurut dokter penyakit dalam, Amanda Kahn, kekurangan zat besi memberikan dampak luas pada kualitas hidup, terutama pada perempuan. “Ketika cadangan zat besi rendah, perempuan sering kali merasakannya di berbagai aspek, mulai dari tingkat energi, suasana hati, hingga kondisi rambut,” ujarnya seperti dikutip dari Allure.

Selain kelelahan kronis, defisiensi zat besi juga kerap memicu sakit kepala, sesak napas, nyeri dada, kram otot, hingga depresi. Gejala lain yang sering terlewatkan adalah perubahan pada kondisi rambut dan kuku.

Dokter kulit Marisa Garshick mengungkapkan, penurunan kadar ferritin—protein penyimpan zat besi—dapat memicu telogen effluvium. Ini merupakan kondisi kerontokan rambut yang signifikan akibat kekurangan nutrisi.

“Perubahan pada rambut dan kuku adalah hal yang paling sering mendorong saya untuk melakukan pemeriksaan kadar zat besi dalam praktik saya,” jelas Marisa. Ia menegaskan, kerontokan rambut yang terjadi tanpa alasan jelas sebaiknya tidak langsung dikaitkan dengan produk perawatan rambut.

Dari sisi dermatologi, dokter spesialis kulit Macrene Alexiades menambahkan bahwa defisiensi zat besi membuat kulit tampak pucat, kering, hingga pecah-pecah. Fenomena wajah pucat disertai lingkaran hitam di bawah mata bahkan populer di internet dengan istilah “ferritin face”.

Meski begitu, para ahli mengingatkan agar tidak langsung melakukan diagnosis mandiri. Sebab, kelelahan dan kulit pucat bisa disebabkan oleh berbagai faktor kesehatan lainnya.

Ahli hematologi Rachel Kramer mencatat, banyak orang di usia 20-an dan 30-an sudah mengalami kekurangan zat besi, namun baru memeriksakan diri saat memasuki usia 40-an. “Perubahan kondisi tubuh yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai konsekuensi usia atau kesibukan,” tegasnya.

Untuk menjaga kesehatan, perempuan usia 9 hingga 50 tahun disarankan memenuhi asupan zat besi sebesar 18 miligram per hari. Zat besi heme dari pangan hewani umumnya lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi non-heme dari sumber nabati yang memerlukan bantuan vitamin C.

Jika asupan makanan belum mencukupi, penggunaan suplemen bisa menjadi opsi medis. Namun, ahli gastroenterologi Wendi LeBrett menekankan pentingnya mencari akar penyebab defisiensi tersebut.

“Orang tidak boleh mengabaikan suatu masalah hanya karena masalah tersebut bisa diperbaiki dengan suplemen,” tutup Wendi. Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah paling bijak sebelum melakukan intervensi medis apa pun.