Langsung ke konten
Selasa, 27 Oktober 2026
Kesehatan

Bukan Cuma Skrining, Peserta Program Cek Kesehatan Gratis Kini Bisa Dapat Obat dan Rujukan Tanpa Biaya!

foto ilustrasi skrining kesehatan (Pexels/Thirdman)

JAKARTA — Pemerintah Indonesia memperkuat transformasi sistem kesehatan nasional dengan mengalihkan fokus pelayanan medis ke arah pencegahan dan deteksi dini. Kebijakan ini diwujudkan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menargetkan peningkatan usia harapan hidup masyarakat dari 72 tahun menjadi 76 tahun.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa program CKG telah menjangkau 38 provinsi di 10.588 fasilitas kesehatan hingga akhir 2025. Sebanyak 70 juta dari total 73 juta pendaftar tercatat telah menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit tidak menular (PTM) sejak dini.

“Pak Presiden Prabowo menugaskan saya untuk bisa meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia dari sebelumnya 72 tahun menjadi 76 tahun. Untuk bisa menaikkan usia harapan hidup tersebut, kita harus melihat kenapa banyak orang Indonesia wafat lebih dini,” ujar Budi dalam diskusi FMB9, Selasa (21/7/2026).

Kemenkes mencatat hampir 75 persen kematian di Indonesia dipicu PTM seperti stroke, penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal. Menkes Budi menegaskan pentingnya rutin memeriksa tekanan darah, gula darah, serta kolesterol untuk mencegah risiko komplikasi mematikan tersebut.

Tak hanya berhenti pada pemindaian kesehatan, pemerintah memastikan peserta CKG mendapatkan pengobatan gratis hingga rujukan medis lanjutan. Di sisi lain, pemerintah juga memprioritaskan penanganan tuberkulosis (TB) dengan menyediakan 10.000 alat rontgen dan PCR portabel di Puskesmas.

“Tahun ini kami mulai kasih obatnya. Cek kesehatan dan pengobatan gratis dan juga ada rujukan untuk penyakit tertentu,” kata Budi menambahkan.

Langkah preventif ini disambut hangat oleh para pakar medis, meski pengubahan pola pikir masyarakat masih menjadi tantangan utama. Sebagian warga kerap merasa takut menjalani tes kesehatan karena khawatir mengetahui penyakit yang diidapnya.

Direktur RS Harapan Kita sekaligus Pakar Pendamping Kemenkes, Ariani Dewi Widodo, menekankan pentingnya meluruskan stigma pemeriksaan dini di masyarakat. Menurutnya, deteksi awal memberikan peluang besar untuk mengendalikan penyakit kronis sebelum memburuk.

“Persepsinya harus dibetulkan dulu. Orang sering takut cek kesehatan karena takut ketahuan sakit. Justru dengan mengetahui sejak dini, kita bisa mencegah agar kondisinya tidak berkembang dari kuning menjadi merah, bahkan bisa kembali menjadi hijau,” tutur Ariani.

Untuk menunjang program tersebut, pemerintah memperluas sarana kesehatan dengan membangun 12 rumah sakit baru pada 2026 setelah menyelesaikan 22 rumah sakit pada 2025. Fasilitas baru ini dilengkapi peralatan modern seperti CT scan hingga cath lab demi meratakan akses layanan spesialis di daerah.