Yogyakarta – Kapoksi Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menegaskan perlunya reformasi kebijakan fiskal dan dukungan konkret pemerintah guna menyelamatkan industri galangan kapal nasional yang tengah tertekan akibat fluktuasi global dan tingginya beban biaya produksi.
Pernyataan itu disampaikan Bambang saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Nasional yang digelar PT Adiluhung Saranasegara Indonesia (ASSI) di Hotel The Malioboro, Yogyakarta, Jumat (13/2/). Forum tersebut menjadi ajang konsolidasi pelaku industri maritim dalam merumuskan strategi penguatan sektor perkapalan nasional.
Dalam paparannya, Bambang yang juga Owner PT Dharma Lautan Utama Holding dan Penasehat Utama PT ASSI menyoroti minimnya pesanan kapal baru serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi geopolitik global, termasuk perang Rusia-Ukraina, disebut turut memicu lonjakan harga material baja pelat sebagai komponen utama pembangunan kapal.
“Industri galangan kapal saat ini mengalami kendala serius, mulai dari minimnya order kapal baru hingga melemahnya kurs rupiah. Kenaikan harga material akibat konflik global juga sangat terasa,” ujar Bambang.
Direktur Utama PT ASSI, Ir. Anita Puji Utami, menambahkan bahwa ketimpangan kebijakan bea masuk dan pajak membuat industri galangan domestik sulit bersaing. Menurutnya, baru sekitar 30 persen komponen kapal diproduksi di dalam negeri, sementara sisanya masih bergantung pada impor.
“Beban bea masuk komponen dan PPN membuat harga kapal produksi dalam negeri menjadi tidak kompetitif. Diperlukan kebijakan insentif agar industri penunjang lokal dapat tumbuh,” kata Anita yang juga menjabat Ketua Umum DPP IPERINDO.
FGD yang dipandu Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, turut menghadirkan Riski Riadi Perdana dari Kementerian Perindustrian. Dalam diskusi, ia menekankan pentingnya standardisasi industri dan penguatan rantai pasok domestik guna mengurangi ketergantungan impor.
Selain persoalan fiskal dan rantai pasok, isu pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi perhatian utama. PT ASSI menilai peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kerja sebagai kunci daya saing industri galangan kapal di tengah persaingan global.
Anita menegaskan bahwa strategi peningkatan produktivitas, inovasi, serta efisiensi harus berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi SDM. Ia juga menyinggung praktik “perang tarif” yang dinilai berpotensi menurunkan standar keselamatan pelayaran jika penggunaan material tidak sesuai spesifikasi.
FGD yang dirangkaikan dengan rapat kerja tersebut dihadiri pula perwakilan Kementerian Perindustrian, Kemenko Marves, BKI Academy, DPP INSA, serta jajaran DPP IPERINDO. Forum ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan industri galangan kapal nasional menuju kemandirian dan daya saing global.
