Surabaya – Tekanan biaya produksi yang terus meningkat membuat industri galangan kapal nasional menghadapi tantangan berat sepanjang 2026. Pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga energi, serta kenaikan harga bahan baku impor dinilai telah menggerus daya saing sektor strategis yang menjadi tulang punggung industri maritim Indonesia.
Ketua Umum Institusi Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Anita Puji Utami mengatakan pemerintah perlu memberikan dukungan nyata bagi pelaku industri, salah satunya melalui penyediaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi untuk kegiatan operasional galangan kapal.
Menurut Anita, beban industri semakin besar karena hampir setengah kebutuhan material dan peralatan produksi masih bergantung pada impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya pengadaan bahan baku otomatis meningkat dan berdampak langsung pada biaya produksi.
Kondisi tersebut diperparah oleh ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat serta dampaknya terhadap jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga energi dan komoditas dunia.
Data Iperindo mencatat harga solar B40 meningkat hingga 89,19 persen dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, harga LPG 12 kilogram naik 16,16 persen dan LPG 50 kilogram meningkat 26,51 persen.
Lonjakan harga juga terjadi pada sejumlah material utama industri perkapalan. Harga pelat baja naik antara 7 hingga 12,6 persen, cat kapal meningkat sekitar 21 persen, sedangkan zinc anode dan aluminium anode masing-masing mengalami kenaikan lebih dari 12 persen.
Akibat tekanan biaya tersebut, sejumlah galangan kapal mulai menyesuaikan tarif jasa reparasi kapal hingga sekitar 20 persen. Untuk proyek pembangunan kapal baru, pelaku industri juga tengah melakukan negosiasi dengan pemilik kapal terkait kemungkinan penerapan eskalasi biaya.
Iperindo berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan industri galangan kapal nasional yang memiliki peran penting dalam mendukung kemandirian dan konektivitas maritim Indonesia.
