JAKARTA — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menepis keras isu liar terkait pengambilalihan lahan warga di Papua dengan harga tak wajar di bawah Rp 100 ribu per hektare. Pemerintah menegaskan kabar tersebut merupakan bentuk fitnah yang bertolak belakang dengan kondisi di lapangan.
Klarifikasi ini disampaikan Mentan Amran saat menghadiri Resepsi Milad ke-65 dan Rapat Kerja Nasional Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (18/7/2026). Ia merespons pertanyaan langsung dari salah seorang delegasi peserta terkait kebenaran isu tersebut.
“Fitnah itu bertebaran. Salah satunya harga tanah Rp 100 ribu per hektare. Itu fitnah yang sangat kejam terhadap pemerintah, termasuk kepada kami yang menjalankan program,” tegas Amran, Minggu (19/7/2026).
Isu ini mengemuka setelah Muhammad Tamim Setiaji, delegasi IPM asal Kota Tangerang Selatan, mempertanyakan maraknya informasi pengambilalihan lahan Papua secara tidak wajar. Tamim meminta penjelasan agar generasi muda mampu bersikap rasional di tengah gempuran informasi liar.
“Kami ingin generasi muda mendapat penjelasan resmi agar mampu melihat persoalan ini secara rasional,” ujar Tamim dalam sesi dialog tersebut.
Mentan Amran menjelaskan, pemerintah justru telah membangun sekitar 137 ribu hektare lahan pertanian di Papua yang kepemilikannya sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat lokal. Pemerintah juga mengucurkan bantuan triliunan rupiah berupa alat mesin pertanian (alsintan) hingga jaringan irigasi secara gratis.
Ia menambahkan, program ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan pemerataan pembangunan nasional. Banyak petani lokal yang kini mampu meraih pendapatan bersih Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan dari hasil mengelola lahan sawah tersebut.
Amran mengisahkan pengalamannya saat dicegat warga lokal di bandara Papua yang justru meminta perluasan area cetak sawah. Hal ini membuktikan bahwa program pengembangan pertanian tersebut diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.
Menutup keterangannya, Mentan Amran mengajak generasi muda untuk lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum terverifikasi di media sosial.
“Saya mengajak adik-adik semua untuk melihat fakta. Jangan langsung percaya pada narasi atau film yang belum tentu sesuai kenyataan. Mari kita cek langsung, dengarkan masyarakat yang menerima manfaatnya,” tutur Amran.
