JAKARTA — Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan awal pekan ini di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah pada level Rp17.903 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (5/10/2026) pagi.
Posisi ini menunjukkan penurunan sebesar 0,12 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.882 per dolar AS. Tekanan tersebut membuat rupiah berfluktuasi sejak pembukaan pasar pasar spot.
Meski sempat dibuka melemah, rupiah berpotensi membalikkan keadaan seiring dengan tren penurunan harga minyak mentah dunia. Sentimen positif ini dipicu oleh aksi negara-negara anggota G7 yang berencana melepas cadangan minyak strategis mereka ke pasar global.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak mentah dunia oleh rencana perlepasan cadangan oleh negara G7,” ujar Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, Senin (5/10/2026).
Namun demikian, ruang penguatan mata uang domestik diprediksi masih akan tertahan oleh kondisi pasar obligasi global. Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS atau US Treasury yang masih bertahan di level tinggi membendung laju apresiasi rupiah secara signifikan.
“Namun penguatan diperkirakan terbatas oleh imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi,” kata Lukman menambahkan.
Mempertimbangkan dinamika pasar uang global tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan akan berada dalam rentang konsolidasi sepanjang hari ini. Pelaku pasar diimbau untuk terus mencermati pergerakan yield obligasi AS dan dinamika harga komoditas global.
“Rupiah akan berada di range Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS hari ini,” pungkas Lukman.
