Idul Fitri 2022 Momentum Bangkitkan Pertumbuhan Ekonomi

Idul Fitri 2022 Momentum Bangkitkan Pertumbuhan Ekonomi

Oleh : Alfisyah Dianasari

Pelonggaran aktivitas saat Idul Fitri 1443 H/2022 sangat diapresiasi masyarkat. Selain mampu melepas kerinduan dengan kampung halaman, momentum Idul Fitri kali ini mampu mengungkit pertumbuhan ekonomi.

Liburan selalu menyenangkan apalagi libur lebaran. Tahun 2022 ini walau masih pandemi tetapi pemerintah memperbolehkan masyarakat untuk mudik, sehingga libur lebaran makin terasa manis, karena bisa dihabiskan dengan silaturahmi dan jalan-jalan di kampung halaman.

Semuanya bergembira karena bisa sungkem dengan orang tua lalu berwisata bersama para kerabat.

Geliat ekonomi juga terjadi saat libur lebaran. Bahkan transaksi selama liburan ini mencapai 42 trilliun rupiah sehingga di kuartal ke-2 tahun 2022 ada kenaikan sebesar 7%.

Jumlah ini sangat fantastis karena hanya dalam beberapa hari, masyarakat menghabiskan uangnya besar-besaran.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 7% dalam satu kuartal tentu amat baik karena jika terjadi tiap kuartal, kita optimis akan bangkit lagi. Bahkan bisa lebih baik lagi daripada keadaan sebelum pandemi.

Saat dua tahun dihantam badai corona lalu lunglai karena perekonomian lesu, maka di libur lebaran masyarakat sudah sehat finansialnya dan roda ekonomi bergulir dengan kencang.
Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (ASITA) Riau Dede Firmansyah menyatakan bahwa Idul Fitri 2022 menjadi momentum yang mendongkrak volume arus lalu lintas orang yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Juga berdampak ganda pada bidang ekonomi maupun pariwisata. Otomatis mendongkrak kesejahteraan masyarakat.
Idul Fitri menjadi momentum penting untuk pertumbuhan ekonomi dan pariwisata dan hal ini amat bagus karena sejak awal pandemi bidang pariwisata benar-benar keok. Penyebabnya karena sempat ada larangan keluar rumah dan larangan kunjungan dari luar negeri, sehingga jumlah turis asing turun drastis. Namun ketika ada libur Idul Fitri maka pariwisata jadi naik lagi.
Para pemudik saat ini sangat mengutamakan kenyamanan. Jika mereka kelelahan di perjalanan maka tak sekadar istirahat di rest area, namun mencari penginapan atau hotel terdekat. Setelah kondisinya bugar maka baru melanjutkan perjalanan. Begitu juga ketika sampai di tanah kelahiran, mereka juga memilih untuk tidur di hotel karena terlalu sempit jika tidur di rumah orang tua.
Situasi ini menyebabkan kenaikan okupansi hotel sehingga membuat pengusaha hospitality untung besar. Mereka jadi kebanjiran tamu yang rata-rata pemudik dan menangguk keuntungan yang luar biasa. Para pengusaha tentu bahagia karena tidak perlu menutup bisnis hotelnya, karena ada saja tamu yang datang.
Sementara itu, pengusaha tempat wisata juga untung besar karena para pemudik menghabiskan waktu liburannya di tempat rekreasi miliknya. Tiketnya laris-manis sehingga pengusaha tempat wisata juga bergembira saat libur lebaran. Tak ada lagi dampak negatif pandemi karena bisnisnya lancar, dan juga tetap aman karena mematuhi protokol kesehatan.
Masyarakat memang tak ragu untuk menghabiskan uangnya untuk biaya mudik dan plesir saat libur lebaran. Mumpung bisa rehat sejenak dari penatnya tekanan pekerjaan dan sedang berkumpul bersama keluarga besar, mereka memilih untuk berwisata setelah bersilaturahmi lebaran. Pengeluaran uang masyarakat menyehatkan kondisi finansial negara karena roda ekonomi bergulir dengan sangat kencang.
Idul Fitri tahun ini berlangsung aman dan lancar, masyarakat juga gembira karena bisa pulang kampung. Dengan adanya momentum Idul Fitri maka tren pemulihan ekonomi nasional diharapkan dapat terus berlanjut.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar pers dan mahasiswa cikini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.