Investasi di Indonesia Lebih Inklusif

Investasi di Indonesia Lebih Inklusif

Oleh : Ruli Adisasmita

Indonesia merupakan negara ramah investasi yang terbuka bagi siapa saja. Pemerintah juga sudah berkomitmen untuk membangun iklim investasi lebih inklusif yang diharapkan dapat berujung pada kesejahteraan masyarakat.

Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Imam Soejoedi menuturkan, hasil positif yang diraih investasi pada kuartal 1 tahun ini, tidak terlepas dari kepiawaian Presiden Jokowi dalam menarik investor asing.

BKPM berkomentar terkait alasan lonjakan investasi pada kuartal I-2022 yang tercatat sebesar Rp 282,4 triliun atau meningkat 28,5%. Hal ini dicapai melalui serangkaian kebijakan yang akomodatif dan inovatif untuk mendorong investasi di tanah air.

Imam Soejoedi menambahkan, investasi ini dimungkinkan berkat kebijakan dari Presiden Joko Widodo yang konstruktif, inovatif yang tahu bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan investasi.

Dalam hal ini, kombinasi kebijakan tersebut, investasi di Indonesia diharapkan menjadi lebih inklusif. Hal ini ditandai dengan pemerataan investasi di Jawa dan luar Jawa.
Bahkan, selama tiga tahun terakhir, implementasi investasi di luar Jawa Berhasil melampaui Jawa. Imam mencatat, dalam tiga tahun terakhir, investasi di luar Jawa tumbuh lebih dari 50%. Sehingga fokus investasi tidak hanya java-focused atau jawa-sentris. Investasi di Indonesia tentu saja mendorong adanya pertumbuhan ekonomi dari Sabang sampai Merauke.
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, sebagai refleksi pemerataan ekonomi di Indonesia, pertumbuhan investasi di luar Jawa saat ini cukup stabil dan terus mengalami peningkatan secara signifikan. Pada triwulan I-2022 realisasi investasi di luar Jawa sebesar Rp 148,7 triliun atau meningkat 16,6% dari triwulan IV-2021 yang sebesar Rp 127,5 triliun.
Pertumbuhan investasi di luar Jawa terlihat dengan masuknya Riau dan Sulawesi Tengah ke dalam lima besar lokasi investasi PMA dan PMDN. Sedangkan tiga provinsi luar Jawa dengan realisasi investasi PMA terbesar, yaitu Sulawesi Tengah di urutan pertama dengan persentase sebesar 12,9% diikuti Riau 9,9% dan Maluku Utara 7,3%.
Bahlil juga mengatakan, bahwa dirinya mendapatkan perintah dari Presiden Jokowi untuk mewujudkan investasi yang inklusif dan berkualitas yaitu adanya keseimbangan realisasi investasi di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, peningkatan nilai tambah sumber daya alam dan mineral, serta tumbuhnya sentra-sentra ekonomi baru di daerah. Untuk itu seluruh unit di Kementerian Investasi/BKPM dengan upaya out of the box melakukan langkah-langkah dalam rangka pencapaian investasi inklusif.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede telah memperkirakan bahwa kinerja investasi Indonesia pada kuartal II/2022 masih akan mengalami peningkatan, terutama pada sektor pertambangan sejalan dengan harga komoditas yang melonjak.
Josua juga menjelaskan, pada kuartal I/2022, sektor pertambangan merupakan salah satu sektor yang mencatatkan nilai investasi tertinggi, baik dari investasi domestik maupun investasi asing. Penanaman modal dalam negeri di sektor pertambangan tercatat mencapai Rp 18,39 triliun, pada periode tersebut, sementara penanaman modal asing sektor ini tercatat sebesar 1,17 miliar US dollar. Dengan kondisi harga komoditas masih cenderung tinggi pada kuartal II/2022, diperkirakan investasi yang berkaitan dengan pertambangan masih relatif tinggi.
Selain sektor pertambangan, Josua juga memperkirakan prospek investasi di sektor yang berkaitan dengan ekonomi berkelanjutan juga akan tinggi, seperti nikel yang dibutuhkan untuk menjadi subtitusi ketergantungan bahan bakar. Adapun, Kementerian Investasi/BKPM mencatat realisasi investasi pada semester I/2022 sebesar Rp 282,4 triliun, meningkat 28,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kenaikan realisasi investasi tersebut menunjukkan bahwa prospek bisnis di Indonesia yang semakin membaik. Hal tersebut diperkuat oleh kenaikan harga komoditas global, yang mendorong sektor turunannya di Indonesia mengalami perbaikan kinerja. Sektor yang mencatatkan kinerja investasi yang tinggi adalah sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi, yang tercatat sebesar Rp 26,97 triliun untuk investasi domestik dan 0,87 miliar US dolar untuk investasi asing.
Keberadaan investasi di Indonesia tentu saja akan berdampak pula pada peningkatan aktivitas ekonomi, sehingga pemulihan ekonomi pasca pandemi di Indonesia akan semakin cepat karena penerapan investasi inklusif.

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

Pos terkait

loading...