JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini tetap kokoh dan jauh dari bayang-bayang krisis. Pemerintah terus menjaga stabilitas nasional melalui kebijakan fiskal yang berhati-hati, sembari memperkuat berbagai program prioritas.
Menurut Purbaya, sejumlah indikator makroekonomi saat ini justru menunjukkan tren yang positif. Terkait pelemahan nilai tukar rupiah, sang Bendahara Negara menilai hal tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor sentimen pasar global ketimbang perubahan fundamental ekonomi domestik.
“Perekonomian kita terus bergerak membaik. Memang masih ada tantangan, namun Indonesia tidak sedang menuju krisis,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (4/7/2026).
Purbaya menjamin kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih berada dalam posisi yang sehat dan aman. Defisit anggaran dipastikan tetap terjaga di bawah batas maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dengan rasio utang sekitar 40 persen terhadap PDB.
Menkeu juga menyoroti pelaksanaan berbagai program prioritas baru, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Pemerintah terus melakukan evaluasi ketat dan efisiensi anggaran agar program-program tersebut berjalan lebih akuntabel dan tepat sasaran di lapangan.
“Pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai kekurangan yang ada. Yang terpenting adalah setiap kelemahan segera diperbaiki dan pengawasannya diperkuat,” tegas Purbaya.
Kementerian Keuangan pun berkomitmen untuk terus menyampaikan analisis risiko fiskal dalam setiap pembahasan kebijakan strategis bersama Presiden. Langkah ini dilakukan agar seluruh keputusan kabinet tetap menyesuaikan dengan kemampuan finansial negara.
Di sisi lain, Purbaya memastikan agenda reformasi birokrasi di internal Kemenkeu terus berjalan tanpa kompromi. Pemerintah fokus memberantas praktik penyimpangan di sektor perpajakan serta kepabeanan lewat rotasi pegawai hingga penindakan tegas bagi oknum yang melanggar.
