JAKARTA — Lonjakan harga minyak dunia akibat dinamika geopolitik global mulai menekan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah mencatat harga minyak acuan global sempat menembus level US$ 105 per barel dalam beberapa waktu terakhir.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia ini memberikan dampak signifikan terhadap struktur pendapatan maupun belanja negara. Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan ekstra dalam menjaga stabilitas fiskal nasional.
“Harga komoditas kalau kita lihat itu, Brent itu sebelah kiri atas US$ 102 per barel. Tapi hari-hari ini kita sudah melihat US$ 105 dan ini semua pasti akan ada implikasi ke APBN kita,” ujar Suahasil Nazara dalam acara APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Dampak langsung lonjakan harga energi tersebut terlihat dari pembengkakan pembayaran subsidi dan kompensasi energi pemerintah. Hingga akhir September 2026, realisasi pembayaran subsidi dan kompensasi energi tercatat mencapai Rp 376,8 triliun.
Angka tersebut telah menghabiskan 84,3 persen dari pagu yang dialokasikan dalam APBN. Nilai realisasi ini melonjak tajam hingga 54,1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Suahasil menjelaskan bahwa pembayaran subsidi dan kompensasi yang disalurkan secara bulanan kepada Pertamina dan PLN tersebut meningkat seiring kenaikan konsumsi masyarakat. Konsumsi BBM bersubsidi naik 9,1 persen secara tahunan menjadi 13.408,6 ribu kiloliter, sementara LPG naik 2,2 persen mencapai 5.761 juta kilogram.
“Tahun lalu baru dibayarkan Rp 244,6 triliun, tahun ini sudah kita bayarkan Rp 376,8 triliun,” tegas Suahasil.
Di sisi lain, sejumlah komoditas ekspor unggulan justru mengalami pelemahan harga akibat volatilitas pasar global. Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) tercatat sebesar US$ 1.090,7 per ton, nikel US$ 15.634 per ton, dan batu bara melandai ke level US$ 149,3 per ton.
Kondisi ketidakpastian global ini tidak hanya menekan harga komoditas ekspor, tetapi juga membayangi prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Sejumlah lembaga internasional bahkan telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi lebih rendah dibandingkan pencapaian tahun 2025.
