JAKARTA – Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) siap mengintervensi pasar modal Indonesia saat menghadapi tekanan eksternal. Lembaga pengelola aset negara ini menyiapkan dana hingga 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 17,89 triliun untuk berinvestasi di pasar modal domestik hingga akhir 2026.
Langkah antisipasi ini menjadi sentimen positif di tengah potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Saat ini, Danantara tercatat telah mengalokasikan dana sekitar 3 miliar dolar AS atau Rp 53,67 triliun untuk portofolio saham dan obligasi.
Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, menegaskan kesiapan pihaknya untuk masuk ke pasar ketika terjadi tekanan gejolak.
“Jika terjadi krisis di pasar, dan kami merasa bahwa itu hanya berdasarkan sentimen eksternal yang bersifat sementara… maka kami mungkin akan turun tangan,” ujar Rani.
Meski siap turun tangan, sosok rekrutan eks Wall Street ini memastikan setiap keputusan investasi tetap melalui uji tuntas yang ketat. Pihaknya berpatokan pada nilai intrinsik saham ketimbang sekadar aksi stabilisasi pasar semata.
“Kami membeli karena kami melihat nilai. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar. Sangat bagus ketika orang tidak menyukai sesuatu dan kami melihat nilai di dalamnya, karena dengan begitu Anda mendapatkannya dengan harga yang bagus,” tegas Rani.
Terkait target kinerja, BPI Danantara membidik imbal hasil investasi sebesar 200 hingga 300 basis poin di atas biaya modal. Target ini menjadi acuan utama dalam mengoptimalkan pengelolaan aset negara yang diamanahkan kepada lembaga tersebut.
Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara, Pahala Mansury, mengungkapkan pihaknya juga tengah berdiskusi dengan Kementerian Keuangan terkait pengelolaan dividen.
“Kami sedang berdiskusi dengan Menteri Keuangan Suahasil. Sejauh ini indikasi yang kami dapatkan adalah kami masih dapat mengelola dividen, tetapi tentu saja kami masih akan menunggu keputusan akhir,” jelas Pahala.
Di sisi lain, Danantara menerapkan strategi berhati-hati dalam menempatkan dana pada sektor kecerdasan buatan (AI). Pengelolaan portofolio dilakukan secara terukur guna menjaga tingkat risiko investasi tetap terkendali.
