Ket foto: Warga Batu Ampar saat demo mendatangi tanah miliknya diklaim Pemkab Buleleng (net)      

Buleleng – Membuat merinding apa akan dilakukan warga Dusun Batu Ampar, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerogak, Buleleng, Bali ketika tanahnya diduga dirampas oknum tidak bertanggungjawab.

Merasa belum mendapatkan keadilan dan dizalimi bertahun-tahun mereka akhirnya akan menggelar ritual bisa disebut kutukan.

“Dalam waktu dekat warga Batu Ampar akan menggelar upacara (Adat Hindu-Muslim) secara bersama, mohon kepada Maha Kuasa/Hyang Widhi supaya hak tanah milik warga dikembalikan secara hukum final. Membuat ngeri, di mana warga juga melakukan ritual yang bisa disebut kutukan, siapa saja yang merampas tanahnya dan terlibat melindungi perampasnya supaya terkena karma tidak baik 7 (tujuh) turunan,” terang Nyoman Tirtawan selama ini getol mendampingi warga Batu Ampar kepada wartawan dari Buleleng, Bali, Minggu (19/06/2022)

Tirtawan yang juga mantan anggota DPRD Bali di bidang hukum ini mengatakan, di atas hukum di negeri ini ada hukum lebih tinggi yakni hukum Tuhan. Untuk itu sebutnya, selain pihaknya bersama warga berkirim surat meminta pengayoman hukum kepada Presiden Ir. Joko Widodo, warga juga meyakini keberadaan perlindungan serta kekuatan dari yang di atas.

Di balik adanya peristiwa ini lanjut kata Tirtawan, tentunya ada makna perlu digali kenapa warga sampai mengadu kepada Sang Ilahi meminta perlindungan dan keadilan. Jelasnya, warga Batu Ampar yang notabene pendidikannya rendah dan awam hukum mengalami trauma ketakutan begitu dalam.

“Warga mengalami trauma ketakutan mendalam. Bagaimana perasaan warga sebagai petani yang awam hukum ketika ditodongkan pistol? Diintimidasi hingga depresi dan harus gantung diri mengakhiri hidup. Pan Dayuh itu korban dari intimidasi kekejaman oknum tidak bertanggungjawab yang merampas tanahnya. Aktivis HAM meski turun lakukan investigasi dalam kasus ini,” singgung Tirtawan.

Sementara itu dihubungi wartawan secara terpisah perwakilan warga Batu Ampar I Gede Kariasa membenarkan akan melakukan upacara persembahyangan bersama menurut keyakinan sebagai korban perampasan tanah.

Upacara yang digelar itu sebutnya, memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar merestui warga Batu Ampar dalam memperjuangkan keadilan, diharapkan berjalan lancar dan baik.

Warga juga akan mendoakan, kepada pihak-pihak punya niat tidak baik dan merampas tanahnya agar hatinya dibukakan Tuhan. Menyadari dalam kehidupan ada hukum karma, jika berbuat tidak baik suatu saat pastinya tertimpa tidak baik juga dan karma itu juga bisa diterima anak dan cucu.

“Kami hanya bisa memohon dan berdoa kepada Sang Hyang Widhi. Mendoakan kepada orang yang ingin merampas tanah kami agar hatinya terbuka. Kalau pun sebaliknya terjadi, biarkan Ida Bhatara Bhatari Lelangit (Tuhan Maha Kuasa) yang menghukum mereka. Jika terjadi begitu kami sekali lagi hanya bisa memohon agar diberi hukuman karma sampai tujuh turunan. Dikabulkan atau tidak itu kan Sang Hyang Widhi yang tentukan,” pungkas Gede Kariasa.