Bali  

Ngeri, Warga Batu Ampar Gelar Ritual Kutukan di Tanah Sengketa

Ket foto: Warga Batu Ampar dua agama menggelar ritual kutukan di Tanah Sengketa (ist)

Buleleng – Ngeri, apa dilakukan para petani pemilik tanah di Banjar Dinas Batu Ampar, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali dalam memperjuangkan hak kepemilikan tanahnya.

Pasalnya, petani yang berbeda agama (Hindu dan Muslim) itu menggelar aksi doa bersama mengingatkan keberadaan hukuman Tuhan bagi siapa saja yang berbuat tidak baik seperti mengkebiri atas hak orang lain.

Membuat merinding, dalam aksi doa bersama itu terdengar adanya lontaran kutukan tujuh turunan bagi perampas tanah dianggap milik mereka dan juga para pelindung perampas tanahnya.

Namun di balik itu ada pesan tersembunyi perlu dipertanyakan, kenapa warga petani ini sampai mengadu ke alam astral untuk memperoleh keadilan. Tentunya ini jadi catatan merah dalam penegakan hukum di Indonesia.

“Kami bersama para petani yang tanahnya dirampas hari ini melaksanakan doa bersama untuk mendoakan perampas dan siapa saja yang melindungi perampas agar Tuhan memberikan hukuman kutukan sampai tujuh turunannya,” terang Nyoman Tirtawan selama ini begitu getol mendampingi warga Batu Ampar usai doa bersama di Pantai Pasir Putih, Batu Ampar, Buleleng, Selasa (21/06/2022) siang.

Tirtawan yang merupakan mantan Komisi I DPRD Bali periode 2014-2019 itu menegaskan, bahwa perampas tanah milik petani bersama kroni-kroninya layak dan pantas menerima hukum dari Tuhan berupa kutukan tujuh turun karena tindakan perampas dinilai sangat tidak manusiawi dan telah mencederai harkat dan martabat para petani yang notabene rakyat jelata dan miskin.

“Siapapun yang terlibat dalam perampasan tanah milik petani, mengusir petani, menembok tanah milik petani sehingga membuat petani menderita bahkan ada yang tidak kuat diintimidasi sampai gantung diri, akan menerima hukum setimpal dari Tuhan, hukuman kutukan tujuh turunan,” tandas Tirtawan.

Tirtawan mendesak Pemkab Buleleng untuk segera mengembalikan tanah seluas 45 hektar milik para petani itu tanpa syarat. “Saya minta agar segera mengembalikan tanah milik para petani tanpa syarat. Mereka menempati tanah itu sejak tahun 1952 secara turun-temurun. Mereka memiliki sertifikat asli dari tahun 1959,” pungkas Tirtawan.

“Melalui forum ini kami mohon Pak Jokowi untuk mengatensi kasus perampasan tanah milik petani dan mohon Jokowi untuk mengembalikan tanah milik petani ini,” imbuhnya lagi.

Permintaan senada juga disampaikan oleh Raman, pemegang SK Mendagri tahun 1982 yang merupakan cucu dari Pak Nias pemilik sertifikat hak milik tahun 1959.

“Kami tinggal di sini secara turun-temurun dan kami sudah punya sertifikat. Maka itu, kami minta Pak Jokowi kembalikan tanah kami,” pinta Raman.

Uztad Muhyi yang memimpin aksi doa bersama warga umat muslim mengaku, awalnya ragu saat diminta untuk memimpin persembahyangan di lokasi.

“Setelah saya melihat bukti-buktinya, saya menjadi semangat untuk memimpin doa di sini. Semoga berkat doa-doa kita tadi semuanya berjalan lancar dan tanah ini segera dikembalikan,” harap Uztad Muhyi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.