Langsung ke konten
Sabtu, 7 November 2026
Ekonomi & Bisnis

Ekonom Soroti Dampak Mundurnya Perry Warjiyo, Stabilitas Pasar Jadi Taruhan

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (sumber foto: harianjogja)

JAKARTA – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) diperkirakan memicu gejolak di pasar keuangan domestik. Sejumlah ekonom menilai pergantian pucuk pimpinan bank sentral dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas kebijakan moneter Indonesia, yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah hingga mendorong kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN).

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, mengatakan pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia merupakan peristiwa yang sensitif bagi pasar. Menurutnya, setiap pengumuman politik yang berkaitan dengan lembaga strategis biasanya langsung tercermin pada pergerakan aset keuangan.

“Saya rasa ini akan berpengaruh pada stabilitas nilai tukar, IHSG dan pasar obligasi. Secara teori ekonomi sudah membuktikan bahwa setiap ada political announcement akan memengaruhi pergerakan pasar,” ujar Esther, Senin (27/7/2026).

Esther menilai pengunduran diri Perry juga berpotensi memunculkan kekhawatiran investor terhadap independensi Bank Indonesia. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat memengaruhi tingkat kepercayaan investor global terhadap arah kebijakan moneter Indonesia.

“Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memicu ketidakpastian pasar finansial global, potensi pelemahan otonomi bank sentral, serta transisi kepemimpinan otomatis ke Deputi Gubernur Senior,” kata Esther.

Untuk meredam gejolak, Esther mendorong pejabat pelaksana tugas Gubernur BI segera mengambil langkah strategis. Salah satunya adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui kebijakan moneter yang tepat apabila tekanan terhadap mata uang nasional terus meningkat.

Selain itu, ia menyarankan Bank Indonesia memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna meningkatkan cadangan devisa. BI juga dinilai perlu bersinergi dengan otoritas fiskal agar upaya menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar tetap berjalan efektif.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita. Menurutnya, mundurnya Perry Warjiyo bukan sekadar pergantian pejabat, melainkan dapat menjadi institutional shock yang memengaruhi kredibilitas bank sentral di mata pelaku pasar.

“Dalam konteks pasar keuangan, figur gubernur bank sentral merepresentasikan kredibilitas kebijakan moneter, konsistensi arah suku bunga, serta stabilitas komunikasi ke pasar. Jadi dampaknya akan sangat ditentukan oleh timing, alasan mundur, dan siapa penggantinya,” ujar Ronny.

Ronny memperkirakan pasar valuta asing menjadi sektor pertama yang bereaksi. Jika transisi kepemimpinan tidak dibarengi komunikasi yang jelas dan meyakinkan, investor berpotensi meminta premi risiko lebih tinggi sehingga rupiah mengalami tekanan dalam jangka pendek.

Ia juga menilai pasar obligasi pemerintah akan merespons cepat melalui kenaikan yield SBN. Menurut Ronny, hal tersebut dapat terjadi meski BI belum mengubah suku bunga acuan karena faktor kepercayaan investor memegang peran penting dalam menentukan arah pasar.

“Jika pemerintah dan otoritas terkait mampu memastikan transisi yang mulus, transparan, dan berbasis meritokrasi, maka dampaknya bisa cepat diredam. Namun jika muncul persepsi politisasi atau ketidakjelasan arah kebijakan, rupiah akan tertekan, yield naik, dan volatilitas pasar meningkat,” pungkasnya.